Menikmati Jayagiri yang Tak Lagi Bermelati

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 10:08 pm

6572_115198653116_624083116_2186929_7390581_n

Sabtu lalu (8/8) bersepeda mengantar tamu. Rombongan Rockers dari Jakarta yang doyan turunan, tapi tak keberatan tanjakan.

Rutenya seperti biasa, jalur yang disebut beberapa kawan sebagai jalur favorit memandu tamu: Tangkuban Perahu-Cikole-Turunan Pakadul-Jayagiri-Lembang-B

oscha-Eldorado dan Berakhir di Pondok Hijau.

Favorit, boleh jadi karena jalurnya relatif menyenangkan dan tak terlalu sulit dilalui. Selain itu, masih juga menyajikan pilihan yang ramah, mau dikebut silakan, mau digowes biasa saja, ya mangga, mau tuntun sepanjang jalur juga tak dilarang.

karenanya, dari tiga kali pengalaman mengantar tamu dari Jakarta, tiga kali pula saya dan Guru Taryan menjumpai karakteristik yang berbeda dari para tamu. Tapi, jujur saja, baru kali ini saya menjumpai rombongan yang begitu menikmati single track dan turunan-turunan lite downhill atau AM ringan di Jayagiri ini. Ringan saja mereka menyantap jalur ini, tapi dengan kecepatan yang tidak ringan.

Dari saat pertama kami bertemu di Salman ITB, tempat meeting point yang dijanjikan, saya menduga kalau rombongan kali ini agak berbeda. Bukan cuma soal ogah nanjak seperti beberapa rombongan Jakarta pada umumnya, tapi lebih pada bagaimana mereka begitu menginginkan turunan. Sangkaan saya, rombongan ini cukup mumpuni dalam melibas single track dan medan All Mountain.

Lihat saja, tiga dari empat Sepeda yang digunakan, adalah Fulsus AM. Hanya satu yang menggunakan hardtail. Untunglah, ditambah sepeda kami berdua, jadi imbang perbandingannya 3:3. Lalu, asumsi itu diperkuat lagi oleh postur dan perawakan atletis dengan otot-otot menonjol pada betis. Semakin yakin setelah di mobil dalam perjalanan menuju Tangkuban Perahu, Ical sang ketua rombongan banyak bercerita tentang track-track yang sudah pernah mereka tempuh.

Ah iya, ini rombongan kecil. Hanya empat orang saja. Ada Ical, Dave, Yudo dan Rochmad. Mereka tergabung karena dipersatukan oleh hobi yang sama dan saling cocok satu sama lain. Kecocokan ini mengingatkan saya bagaimana cerita perjumpaan pertama saya dengan guru Taryan, yang membuat saya mengenal lebih banyak kawan bersepeda dan jalur Bandung Utara.

Setelah membongkar sepeda saya dan Taryan, lalu mengikatnya di rak sepeda, rombongan pun berangkat. Dua mobil, masing-masing membawa tiga sepeda di belakangnya.

Sampai di parkiran Tangkuban Perahu sekira pukul setengah sepuluh. Setelah persiapan sepeda selesai, sebentar saja kami pemanasan ke kawah ratu. Selanjutnya, turun terus, dengan berbagai medan. Mulai dari aspal mulus, campur batu lepasan, hingga masuk semak menuju Pakadul.

Berbagi tugas dengan Taryan yang menjadi leader, saya kebagian jadi sweeper. Lewat sedikit dari Start downhill, kami berbelok ke kanan, masuk ke sebuah jalan setapak tanah. Lalu, single trek kering yang dilindas lima sepeda berkecepatan tinggi itu membuat kabut debu tebal di sepanjang trek. Tak mau tertinggal dari yang lain, saya coba menyesuaikan kecepatan. Asyik juga, meskipun agak menyiksa, terutama karena kabut debu itu beterbangan di sepanjang jalan.

Lalu, sangkaan saya soal rombongan yang mumpuni ini menemukan jawabnya di Pakadul. Ketika itu, para tamu kami tak menunjukkan gelagat memperlambat sepeda. Yang ada, malah makin bersemangat. Misalkan saja Ical yang saat itu ada di depan saya, alih-alih berhati-hati dan pelan, dia malah tampak antusias meliuk di jalur di antara pinus-pinus itu. Beberapa kali pula dia melahap drop-off rendah yang dibikin secara tak sengaja oleh akar-akar yang berseliweran di antara pinus itu.

Pakadul memang menyajikan profil trek lengkap. Single trek, drop off, jalan rusak karena motorcross, hingga setapak di antara rerimbunan bambu, juga bibir jurang yang tak terlalu dalam di penghujungnya.

Maka, ketika istirahat di pintu Jayagiri, mereka bilang kalau Trek seperti Jayagiri ini lebih mengasyikkan ketimbang Downhill. Saya belum pernah melakukan downhill, tapi kata Ical, trek semacam ini bikin deg-degan karena kita tak pernah tahu apa yang selanjutnya harus dihadapi di depan.

Hehehe boleh jadi perasaan mendebarkan saat mencoba sesuatu yang baru, ditambah dengan sensasi memacu kecepatan di turunan. Jayagiri selalu saja menyenangkan untuk dilalui, kendati di sana sudah tak ada melati.

Pukul sebelas kami sudah sampai di Boscha. Menanjak dulu, bersenang kemudian. Tanjakan yang lumayan menjebak ini sudah banyak makan korban. Korbannya adalah harapan. Harapan bahwa tanjakan telah berakhir biasanya dibunuh di jalur ini. Ketika jalan makadam berganti tanah, lalu ketika berbelok dan berharap tanjakan berakhir, terhampar di sana tanjakan lagi, sementara bukit Boscha nan tinggi nyata di depan mata.

Tak terlalu lama kami berada di puncak Boscha, hanya beristirahat dan berfoto bersama. Ada juga Dave yang berfoto sendiri sambil mengangkat sepeda dengan satu tangan. Lainnya, mengabadikan bukti pernah kemari dengan background topi perak Boscaha yang seperti helem batok.

Selanjutnya, turunan panjang single trek hingga perkampungan penduduk sebelum masuk komplek Eldorado, dilalui dengan waktu yang singkat saja. Masih ada turunan rollercoaster haram diRem, kata Taryan. Kabarnya, para pesepeda yang sempat bersepeda ke Bandung dan mencoba trek ini mencapai topspeednya di sini. Bahkan ada yang sampai 70 km/jam, setidaknya angka itu yang tercatat di cyclocompnya.

Perjalanan terakhir seperti inaugurasi. Senang-senang saja di Pondok Hijau. Turun bukit dengan kemiringan yang kalau dilihat mampu menyiutkan nyali, tapi saat dicoba malah bikin ketagihan. Para peserta trip tampak menikmati sekali.

Beberapa malah berbaur dengan anak-anak setempat yang meluncur juga dengan pelepah pinang. Mencoba pula pelepah pinang, mirip anak-anak Laskar Pelangi di Belitong sana. Lalu, tak lama, lepas adzan dhuhur berkumandang, kami menyudahi perjalanan. Di Rumah Makan Ma Uneh di Jalan Setiabudi di seberang Enhaai itu perjalanan berakhir. Adrenalin di dada kini berganti dengan orkestra di perut. Lalu tesis Taryan tentang betapa bersepeda tak pernah bisa membuat badan langsing sepertinya benar adanya.

Bandung, Suniaraja: 140809

Thanks to Rockers: Ical, Yudo, Dave dan Rochmad. Juga Guide Berpengalaman: Guru Taryan. Menyenangkan sekali berperjalanan bersama kalian.

Popularity: 7% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Hiking Musim Kemarau, Mengelilingi Puncak Gunung Tangkuban perahu.

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 10:06 pm

“Hidup itu baru terasa manis setelah kita menjalani perjalanan panjang dan pahit, melelahkan dan penuh rintangan…”

zaki

Udara pagi musim kemarau terasa dingin menusuk tulang, tapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk berpetualang di “long weekend” ini. Berbeda dengan petualangan yang lalu, kali ini saya ditemani mantan pacar, yang akan menambah serunya petualangan kali ini.


Seperti biasa meeting point dilakukan di pertigaan jalan sukawana – kol. Matsuri, tepat sebelah timur terminal parongpong yang dilalui oleh trayek Ledeng – Parongpong, Cimahi – Parongpong, dan Lembang – Parongpong. Kali ini saya berangkat dari cicadas menuju ke terminal ledeng dan selanjutnya menuju ke arah terminal parongpong, tepat pukul 8.00 saya tiba di tempat start.

Peserta kali ini terdiri dari 9 orang, yang terdiri dari saya dan istri, kang Ahdi dan Suci Fitri Yanti, Anggit dan Dewi, Hanny Suhaeni, Zakiyah nurul falah dan peserta baru yang masih imut-imut yaitu Mutia. Dari kedsembilan peserta terdapat peserta termuda, Dewi, yang baru menginjak bangku kelas 5 SD, walaupun masih kecil tapi semangat petualangannya mengalahkan teman-teman yang lain. Rencana awal berangkat pukul 8.00, akan tetapi kali ini harus ‘ngaret’ setengah jam karena harus saling menunggu, hingga perjalanan baru bisa dimulai sekitar pukul 8.30. Akibatnya sinar matahari pun mulai terasa panas menyinari seiring keringat yang mulai bercucuran.

Perjalanan dimulai dengan menapaki makadam berdebu yang menuju ke pabrik teh milik PT PN VIII, sesekali ada truk dan motor yang melintas membuat kami harus ‘aktung’ kependekan dari aksi menutup hidung karena debu yang begitu mengepul dikhawatirkan akan ikut memasuki paru-paru kami. Lalu memasuki area perumahan para karyawan pabrik teh yang merupakan kampung paling pinggir yang berbatasan langsung dengan kebun teh.

Sesekali ditengah perjalanan kami saling berbagi makanan ringan yang dibekal dari rumah, canda tawa, saling ejek, atau berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan kepenat yang ada setelah jenuh bekerja. Cuaca yang cerah dan panas membuat minuman yang kami bawa cepet ludes. makadam menanjak panjang berkelok-kelok dan sinar matahari yang mulai terik membuat kami harus sering istirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga. Udara yang sejuk serta panorama sukawana yang eksotik mengobati kelelahan kami agar cepat-cepat sampai ke tujuan, kawah upas.

Akhirnya kami tiba dipinggiran kebun teh sukawana yang sekaligus berbatasan dengan hutan tangkuban perahu, kontur tanah masih tetap menanjak, kami pun melanjutkan perjalanan pelan-pelan agar tidak kelamaan dijalan. Lalu kami kembali menemukan jalan makadam panjang berkelok-kelok dan terlihat seperti tak ada ujungnya. Dengan rasa penasaran kami terus menyusuri makadam itu hingga terlihat dengan jelas menara-menara tangkuban perahu yang biasa kami lihat dari kejauhan.

Habis makadam itu kami menyusuri jalan setapak berbatu yang menuju ke kawah upas, tepat ketika waktu menunjukan pukul 1.00, kami sampai juga dikawah upas, disana nampak pula sekawanan penghobi motor cross sedang menikmati pemandangan kawah upas yang jarang dilalui oleh wisatawan itu, karena letaknya memang yang susah dicapai oleh kendaraan beroda empat atau pejalan kaki karena letaknya sebelah barat kawah utama yaitu kawah ratu.

Keindahan kawah yang mempesona kami lalui untuk kembali menyusuri jalan setapak yang akan menuju ke penelitian petir milikk ITB, menuju kearah timur. Mengejar makan siang yang memang sudah telat dari waktunya, “salatri” kami bilang. Turun sedikit kearah parkiran kami menemukan tempat makan dengan view pemandangan yang indah.

Perut yang kosong setelah berjalan selama 5 jam dan dinginnya udara serta “view” pemandangan yang indah membuat kami cepat-cepat ingin membuka bekal kami. Saking laparnya kami makan begitu lahapnya dengan nasi yang sudah dibekal dari rumah. Ditemani dinginnya udara yang berhembus serta sekali-kali kabut meniup ke arah kami. Ah, rasanya makan siang yang sangat nikmat. Walaupun dengan lauk seadanya. “maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan”.

Selesai kami makan dan istritahat, perjalanan dilanjutkan menuju parkiran bawah untuk melaksanakan shalat dan memenuhi panggilan alam. Secara bergantian dan saling menunggu barang-barang, tepat pukul 16.00 kami mulai bersiap kembali untuk menuruni jalan utama menuju jayagiri, akan tetapi ditengah perjalanan salahsatu diantara kami mengajukan untuk naik angkot, akhirnya kami mencarter angkot gelap untuk mengantarkan kami ke Lembang. Setelah tawar menawar harga pas tancap gas akhirnya kami pulang menuju lembang dengan menyisakan kelelahan yang lumayan. Disambung lagi dengan naik lagi angkot jurusan Lembang – ST. Hall dengan tujuan ledeng, karena kami punya tujuan pulang yang berbeda maka kami berpisah diterminal ledeng. Sampai disini pun kami berpamitan.

Sempat tersesat

Sebagai misi menyelesaikan “target uncomplete” ketika kami bersepeda beberapa bulan yang lalu sebagai pencarian menara sukawana bersama abah, kali ini harus komplit. Walaupun belum tahu jalan tapi saya penasaran ingin menuntaskan misi itu, walau dengan berjalan kaki, tanpa menunggang sepeda. Akibatnya kami tersesat ke tower ujung makadam, untunglah ada bapak penunggu menara yang memberi tahu kepada kami bahwa jalan yang kami lalui salah jika tujuan kami ke kawah upas.

Jalan itu katanya akan menuju ke Panaruban atau ke Situ Lembang yang akan berakhir di Lawang angin, area plang komando CiSarua. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya kami memutar arah untuk kembali melalui jalan yang benar, karena sesuai petunjuk bapa penjaga tower, kami harus mengikuti kabel listrik hingga kami menemukan penelitian petir milik ITB.

Cicadas, 20 Juli 2009.

Popularity: 6% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Mencari Keluhuran di Curug Luhur

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 10:05 pm

Penulis Arif “abah” Zaidan
curug
http://abahsaidan.multiply.com

Tak afdol rasanya jika si kuning tak diperkenalkan pada Guru Taryan. Maka, hari Minggu kemarin (4/5), merupakan perjalanan pertama si kuning bersama beberapa teman. Tentu saja, dipandu guru Taryan.

Trip ini sudah kami rencanakan sejak hari Kamis, dalam percakapan Y!M dengan Taryan. “Si kuning bade disiksa ka mana, bah?” Tanya dia. Saya jawab terserah saja. Lalu, Taryan mengajukan sebuah tempat: Curug Luhur.

Di MP-nya Taryan saya pernah melihat foto-fotonya, tampak menarik terlihatnya. Curug Luhur terletak di Desa Cibodas. Jika dari Lembang, ambil jalan ke arah Maribaya. Setelah Maribaya, ke atasnya lagi ke arah Bukit Tunggul. Sampai terminal, belok kiri, di sanalah lokasi Curug Luhur berada.

Langsung saja saya iyakan. tapi, seperti kata Taryan, perjalanan nanti bukanlah perjalanan singkat (short trip). Bisa memakan waktu seharian. Jika begitu, saya harus minta persetujuan Ambu dulu. Tak lama, ijin didapat, tak ada masalah. Lalu, disepakatilah waktu perjalanan. Asalnya, memang mau hari Sabtu, jadinya bergeser satu hari. Perjalanan dilakukan hari Minggunya. Meeting point di gerbang UPI, pukul tujuh pagi.

Soal peserta juga mengalami perubahan. Tadinya hanya dua orang, saya dan Taryan, akhirnya bertambah jadi delapan orang. Saya pikir, lebih seru jika lebih banyak peserta, biarpun waktu bersepeda jadi melar beberapa lama.

Akhirnya, di Gerbang UPI itu, berkumpullah para murid Guru Taryan. Murid lama ada tiga, saya, Jeri dan Oki. Sisanya, murid baru semua. Ada Pitra (Onta) Ramadhani dan Roby Iskandar, para pustakawan bersepeda, teman sekampus dulu. Ada pula Sniper yang hendak menjajal Exrada tunggangan barunya. Juga peserta dadakan bernama Hendra, teman Roby yang tadinya cuma mau ke warung balok saja.

Pukul setengah delapan, rombongan berangkat menuju Lembang. Beberapa yang terbiasa nanjak, langsung melesat. Saya, jeri, Oki dan Taryan memilih belakangan saja. Santai saja, seperti yang saya pesankan pada Taryan malam harinya, “kang, enjing teh santey we, nya heheheh, td enjing2 nembe ti gunung masigit gua pawon:)”. dibalas langsung oleh Guru Taryan, “Mangga, bah!”

Sampai di Lembang, rombongan berhenti sebentar di daerah warung balok. Menghangatkan perut dengan teh manis panas dan lemon peras. Sedikit ngopi gehu dan bala-bala juga.

Pukul sembilan lewat perjalanan dilanjutkan. Kali ini bonus turunan panjang dan berkelok sebelum kawasan wisata Maribaya lumayan memanjakan. Meskipun kemudian harus ditebus dengan tanjakan yang tak kalah panjang dan berkelok setelahnya.

Seluruh rombongan sampai di Desa Cibodas pukul sepuluh lewat. Berhenti sejenak untuk istirahat dan membeli nasi bungkus buat dimakan di Curug Luhur sana. Kabarnya, Curug ini dulunya adalah kawasan wisata. Tapi lalu ditutup karena memakan korban sepasang suami isteri yang meninggal saat bertapa. Katanya sih minta nomor, pastinya saya kurang tahu.

Tapi, ditutupnya curug sebagai kawasan wisata, nyata benar dampaknya. Setelah makadam dan jalur setapak tanah yang menanjak, kami disuguhi jalan setapak yang terlihat lama tak dikunjungi. Rumput, ranting dan alang-alang nyaris saja membuat jalan tak terlihat. Tinggi-tinggi pula, hingga mengharuskan beberapa kali berhenti karena menyangkut di pulley atau sprocket di bagian belakang.

Beberapa kali pula jalur yang tak terlihat itu menjebak sepeda, membuat terguling atau paling tidak terperosok. Tak jarang tumbuhan durinya, semacam putri malu, menggores kaki dan tangan. Bahkan, jika saja tak ada helem, bukan tak mungkin kepala menjadi korban.

Jalur yang tertutupi membuat pemandu kami beberapa kali turun dari sepeda untuk survey. Memastikan mana jalan yang benar. Suatu waktu, bahkan kami semua menempuh jalur yang salah, membuat kami harus mengulang dari persimpangan sebelumnya. Bahkan, dalam keputusaasaan, pernah kami berpikir bahwa jalur ini bukan lagi jalur sepeda.

Hingga akhirnya bertemu jalur yang benar, namun mengharuskan kami memarkir sepeda beberapa puluh meter dari lokasi curug. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, memang. Tapi, akhirnya sampai juga di tujuan. Lalu, seperti kata Onta, begitu melihat air jatuh di ketinggian, semuanya terbayar! Sesaat setelah melihat Curug Luhur itu, rasanya ada keterpukauan yang sama terhadap keindahan alam.

Sampai di Curug, Taryan langsung berwudhu lalu menghamparkan raincoatnya untuk alas Shalat. Di sebuah batu dengan permukaan yang agak rata dan lebar. Setelah selesai, kami antri bergantian. Lelah berperjalanan terbasuh dengan dinginnya air curug saat berwudhu.

Selesai shalat, tak lama, bekal pun dibuka. Nikmat rasanya santap siang di tengah pegunungan. Apalagi jika mengingat bagaimana upaya kami bisa mencapai tempat ini. Sambil makan, saya dan Taryan berbincang tentang betapa keindahan alam selalu saja menimbulkan keterpukauan luar biasa.

Waktu kecil saya mengaji dulu, hal ini disebut ustadz sebagai Tadabbur Alam. Artinya bukan hanya sekedar wisata, katanya. Ada hal-hal yang bisa sengaja dimaknai. Tentang bagaimana Tuhan �menampakkan diri� melalui ciptaan-Nya, misalnya. Dulu, guru ngaji saya bilang kalau mau mengenal Allah, kenalilah lewat ciptaan-Nya.

Barangkali inilah yang dimaksudkan; ketika terpukau akan keindahan alam, semestinya di sana lahir kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk kecil dan nihil. “Tiada daya dan upaya, semua hanya milik-Nya”. Maka sungguh, di tempat ini saya teringatkan kembali, tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu sia-sia. Maha suci Engkau, ya, Allah, semoga kami dijauhkan dari api neraka.

Selesai makan, kami agak berlama-lama di sana. Terlebih, saat itu hanya kami berdelapan yang ada di lokasi Curug (di luar yang tidak terlihat,tentu). Menjadi turis sehari, menikmati dinginnya air curug juga tak lupa bergaya di depan kamera.

Diantara kami berdelapan, hanya Jeri yang membawa kamera. Tapi itupun sudah cukup. Dokumentasi, kata Taryan adalah hal yang penting di setiap perjalanan. Boleh jadi, karena gambar hanyalah �second hand reality�, dia tidak membawa serta kepayahan kami menempuh perjalanan ini. Tak pula memperlihatkan muka frustrasi karena di depan tampak (lagi-lagi) tanjakan.

Satu-satunya hal yang terekam hanyalah kegembiraan, biarpun lepas pulang, kami basah kuyup kehujanan.

Bandung, 4 mei 2009

Popularity: 6% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Jayagiri -Tangkuban Parahu : Rihlah pertama awak CyberMQ

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 10:02 pm

hani

“kebiasaan adalah racun sedangkan rutinitas tak lain dari pembunuh berdarah dingin”

Silent morning itulah biasa orang menyebutnya, pagi yang tenang dimana sebagian orang libur dari bekerja. Saat dimana terlepas dari rutinitas yang terkadang membuat jemu. Walaupun Cuma dua hari bahkan satu hari maka akhir pekan ini banyak orang pergi berlibur.

Seperti halnya kami, pagi itu hari saptu tanggal 7 maret 2009. Sebuah pagi yang sangat cerah dimana tak tampak satu awan pun, langit begitu bersih dan begitu biru. Jalanan belum begitu macet, hiruk pikuk dan kesibukan para tukang angkot masih belum begitu terlihat.

Kalau orang bilang petualangan adalah penjumlahan antara resiko dan tujuan, maka tujuan kami adalah Gunung Tangkuban Perahu dan tentunya dengan resiko yaitu harus berjalan kaki untuk mencapai puncak. Semua resiko yang akan terjadi telah kami minimalisir, sesuai intruksi kepala suku maka tiap-tiap kami harus membawa bekal masing-masing seperti nasi timbel komplit, makanan ringan(coklat, biscuit, dll), alat shalat, raincoat, seragam hiking, dan satu hal yang paling penting yaitu berdoa dan shodaqoh sebelum berangkat.

Sesuai dengan rencana, kami melakukan meeting point di jalan gegerkalong hilir, tempat perhentian akhir angkot trayek cimahi – ledeng. Agis, Hanny dan Suci sudah mengunggu saya yang sedikit telat datangnya. Tanpa pembicaraan yang panjang langsung kami memutuskan untuk berangkat dan memilih angkot jurusan ST.Hall – Lembang, sembari menikmati perjalanan disertai pembicaraan ringan diangkot, sebelum akhirnya membawa kami tiba di Pasar Lembang.

Jayagiri Dua, inilah jalan yang kami susuri, awal perjalanan sudah disuguhi dengan tanjakan aspal yang panjang sampai menemukan makadam yang menanjak pula, disebuah warung dipinggir jalan kami membeli gorengan dan leupeut sebagai ganjal perut yang memang sedari pagi belum sempat sarapan.

Dari ujung makadam itu kami menemukan jalan setapak dan merupakan batas antara perumahan penduduk jayagiri 2 dengan kawasan hutan jayagiri. Disini kami istirahat sambil menghabiskan gorengan yang kami beli tadi, saya dan hanny berjalan lebih cepat dan lebih duluan, sementara agis dan suci berjalan paling belakang.

Diperhentian ini kami agak lama menunggu agis dan suci yang terlihat kecil dari kejauhan, seperti sepasukan semut yang sedang berjalan. Ketika tiba nampak wajah kelelahan menyelimuti Agis, mukanya pucat, sekujur tubuhnya tampak lemas dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saya pun sedikit panik melihat keadaanya, lalu saya menyapanya “de agis masih kuat kan, atau mau balik lagi?” dengan semangat yang tersembunyi dijawabnya “masih kuat kang”.

Agar lebih bersemangat maka Tas yang tadinya dibawa agis dibawa oleh saya, dengan maksud meringankan bebannya karena jalan masih menanjak sampai benteng belanda. Selain itu sinar mentari yang terik mempercepat kami dehidrasi. Akhirnya sampai sudah kami di benteng belanda dimana jalan setapak yang tak lagi menanjak, dan tanpa menyuruhnya agis pun kembali meminta tas yang dibawa oleh saya, tak lupa mengucapkan terimakasih kepadaku, “makasih yah kang”.

***

Kini kami mulai memasuki hutan, pohon-pohon tumbuh tinggi dan besar tidak seperti pohon-pohon pinus di jayagiri yang telah kami lewati. Bunga-bunga terompet berwarna putih bersih terlihat dibeberapa pinggir jalan, seperti penjaja terompet yang menjajakan barang dagangannya, diaturnya terompet-terompet itu secara alamiah. Udara begitu segarnya jauh dari polusi dan jauh dari keibisingan. Suara tonggeret menghiasi keheningan hutan berselang-seling dengan suara burung hutan yang kalau sekilas akan terdengar seperti orang melafalkan kalimat “ciiiiipeuuuww”.

Dari benteng belanda kami melalui jalan tengah hutan dengan maksud “motong kompas” ke arah parkiran bawah gunung tangkuban parahu. Sebagai tour leader saya agak sedikit kebingungan ketika mendapati sudah banyak jalur-jalur baru. Jalur-jalur itu sebagain telah rusak, berlubang dalam karena sering dilalui oleh penghobi motor cross yang memakai ban pacul (red : ban Cangkul).

“dan telah nampak kerusakan dimuka bumi karena ulah tangan manusia”

Target pertama sebentar lagi akan dijumpai, namun saya ingin mencari jalur baru dengan berbelok mengambil jalan kiri tujuannya agar cepat sampai parkiran, dan rupanya jalan yang ditempuh makin asing, akhirnya dengan keputusan bersama  kami balik arah dan melanjutkan kejalan semula. Disini bau blerang sudah tercium pekat maaf seperti bau kentut yang menusuk hidung.

Inilah petualangan kawan, sekali kau ceroboh dan sombong maka kau akan tersesat, bahkan bisa celaka. Tibalah kami di parkiran bawah tanpa istirahat  yang lama perjalanan pun dilanjutkan ke puncak kawah yang berjarak beberapa kilometer saja. Menanjak dan berkelok-kelok. Sedikit menghibur, saya pun sedikit membujuk “tenang tinggal dikit kok, dua belokan lagi!”

***

Tujuan yang utama akhirnya terlaksana, kini kami sampai dipuncak, lalu photo-photo narciscus, sambil mengagumi kemahaagungan-Nya tanpa peduli para pengunjung lain memperhatikan kami, dan seperti begitulah efek petualangan kawan, kita jadi begitu gembira begitu semangat dan semakin menambah keyakinan baru, bawha kita itu begitu kecil dihadapan-Nya.

Menyusuri ke ujung jalan sampai kami menemukan tempat yang enak untuk makan, makanan yang dibekel dari rumah, tentunya lebih hemat, lebih sehat, dan yang paling utama adalah bergizi. Kami makan begitu lahapnya, tepat ketika adzan dzuhur berkumandang dari “TOA” musholla gunung tangkuban perahu. Ada “basreng” HOT, ada “INTEL” goreng, ada “KFC”, dan sayuran lainnya. Hmmm enak.

Setelah selesai makan sambil meluruskan kaki kami yang mulai terasa pegal-pegal, kami mulai memakai kembali jaket karena udara terasa dingin. Setelah istirahat dirasa cukup maka kembali perjalanan kami lanjutkan, tanpa terduga cuaca berubah cepat, awan hitam mulai menaungi puncak gunung, dapat diprediksi sebantar lagi hujan deras akan turun, benar saja hujan turun begitu lebatnya, lalu kami berteduh, dan seusai hujan reda kami shalat di mushola lalu Perjalanan dilanjutkan.

Menuruni jalanan aspal, berlubang dan becek, sesekali diselingi kerikil-kerikil  tajam, sementara jalanan terus menurun menuju jalan setapak lagi yang akan tembus ke jalur jayagiri utama. Disini Agis dan Suci sempat “tipeleset” tapi turunan akar jayagiri tidak membuat kami ada yang terluka dan terasa seru disisa-sisa tenaga yang ada.

Sebuah tanjakan legendaries, tanjakan jayagiri, tanjakan yang dipopulerkan lewat lagu “melati dari jayagiri”. dan kini malah kami menuruninya. Sampai menemukan batas antara pintu masuk dan perumahan penduduk.

Jalan yang lurus dari jayagiri akan berada tepat disamping ketika kami berangkat, sebuah angkot jurusan Ciroyom – Lembang sudah menanti untuk kembali ke perjalanan pulang. Pulang, pulang dan istirahat. Semoga perjalanan kali ini penuh makna. (Terima kasih kepada Hanny, Agis dan Suci – Admin CyberMQ)

“Jika kau ingin menjadi orang yang berubah maka ingat 3 hal : 1. Baca Alquran 2. Belajar 3. Berkelana/Bertualang”

Popularity: 7% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Tangkuban Perahu dan ROGER BAGEN

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 10:00 pm

rofger

Bandung, 28 Desember 2008

“berbagi waktu dengan alam kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya hakikat manusia

akan aku telusuri jalan yg setapak ini semoga kutemukan jawaban”

Diatas adalah petikan lirik lagu GIE yang sekaligus menjadi soundtrack film gie, lirik lagu diatas yang menginspirasi awal perjalanan kami.

Cuaca akhir desember begitu bersahabat, angin pagi berhembus begitu segarnya. Akhir desember tahun ini terdapat hari-hari besar yang banyak dinanti orang seperti hari ibu, kenaikan isa almasih, tahun baru islam 1430 H, dan ditutup dengan perayaan tahun baru 2009. Maka akhir bulan merupakan liburan yang panjang bagi mereka yang berkerja sebagai pegawai negeri atau pun sebagai karyawan swasta.

Ada yang menjadikan hari libur sebagai hari kerja dan ada yang menjadikan hari kerja sebagai hari libur, ada pula yang memanfaatkan liburan sebagai proses re-charge dan menggunakan waktu liburannya semaksimal mungkin seperti pergi ke pantai, pergi ke gunung, berkunjung ke sanak saudaranya dan lain sebagainya. Maka saya lebih memanfaatkan liburan sebagai sarana olahraga bersepeda yaitu olahraganya dapat, rekreasinya dapat, silaturaminya dapat, kulinernya dapat dan yang tak kalah penting adalah menguji daya tahan fisik sejauh mana menghadapi medan yang akan dihadapi.

Tausiyah pagi di Mesjid Daarut Tauhiid yang diisi oleh Ust. Dudung Abdul Ghani, belum selesai. Tetapi kami harus berkumpul didekat masjid DT untuk melakukan meeting point sambil sarapan bubur ayam “RESTORJA” yang murah meriah. Saya, Ust. Amri, Pa Nahar, Pa Joko mulai mengayuh menuju ke arah lembang. Setelah sampai di lembang dan berhenti sejenak perjalanan dilanjut lagi menuju ketinggian 1400 m, yaitu Trek Gunung Putri.

Setelah terjajah dengan pekatnya asap knalpot, angkot yang berhenti seenaknya, bus-bus besar yang menghabiskan jalan sepanjang Jalan sethiabudi sampai pasar lembang, kini kami melewati jalur yang menanjak dan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Inilah kemerdekaan yang kami rasakan menikmati segarnya udara pegunungan tanpa tercemari oleh asap-asap knalpot.

Di warung ujung kampung gunung putri sebelum melewati makadam, kami istirahat sekitar 15 menit untuk mengisi tangki-tangki kami sebagai persediaan untuk melanjutkan perjalanan. Keringat membasahi baju-baju kami, keringat bercucuran, dan udara dingin segera membalut tubuh kami. Warung diujung kampung ini memang tempat yang paling enak untuk beristirahat melihat view gunung tangkuban perahu yang berhimpitan dengan gunung burangrang disebelah baratnya.

Perjalanan pun dilanjutakan menelusuri single track, makadam, hutan pinus dan jalan raya menuju tangkuban perahu. Bau blerang sudah tercium sejak kami tiba di jalan raya. Sengaja kami harus datang lebih awal ke puncak gunung karena kami akan bergabung dengan pesepeda dari Bekasi yang menamakan grup nya dengan nama ROGER BAGEN. Karena 4 pesepeda kali ini sudah terlatih maka pukul 8.45 sudah sampai puncak kawah.

***

Rombongan yang dinanti akhirnya tiba sekitar pukul 10 ketika jalanan ke sekitar parkiran atas macet total karena banyaknya pengunjung yang membawa kendaraannya masing-masing diantara itu ada juga yang membawa kendaraan dinas plat merah. Tiga pick up tiba membawa puluhan sepeda dan puluhan penunggangnya juga.

Setelah meeting poin yang dipimpin oleh pa Riki Soelaeman selaku pimpinan rombongan dan ditutup oleh doa oleh Ust Amri kami pun berangkat. Di parkiran bawah kami berhitung sekitar 32 orang tergabung dalam trip kali ini. Melewati single track yang akan menuju jaya giri, cikole, benteng belanda, lembang, masjid lembang.

Melewati jalan setapak dengan kondisi jalan basah memerlukan konsentrasi dan kehati-hatian, salah-salah bisa terpeleset dan terjatuh. Saya mendapat amanah sebagai tim penyapu dan berada dibagian belakang rombongan. Menjadi rombongan paling belakang agar rombongan tidak terpisah ataupun kesasar.

***

Matahari bersinar begitu terik, sebentar lagi akan berada tepat diatas kepala yang pertanda tengah hari akan segera tiba. Membakar kulit tangan yang tak berpelindung, mempercepat dehidrasi seiring dengan keluarnya banyak keringat dan panasnya udara. Langit berwarna biru cerah dengan gerombolan awan-awan yang berwarna putih bersih.

Kepingan-kepingan harapan mulai membayangi langkah-langkah yang tak pernah lelah. Sebentar lagi kita akan sampai benteng belanda. Salah satu dari banyak peninggalan penjajah yang selama 350 tahun menjajah bumi ibu pertiwi. Walaupun umurnya sudah ratusan tahun tapi bangunan itu tetap kokoh, secara jujur orang tua dahulu berfikirnya sudah jauh ke depan, tidak setengah-setengah dalam berbuat sesuatu akan tetapi haruslah bermanfaat bagi anak-cucunya.

Akhirnya kita akan melewati turunan yang licin, satu persatu dari para biker melewati turunan, ada yang sangat hati-hati, ada pula yang ngebut tentunya bukan hanya sebuah kenekadan tapi melalui sebuah keberanian dan perhitungan yang matang. Roger team melewatinya dengan gagah berani, konsentrasi, teknik, dan tentunya kondisi sepeda yang mendukung untuk melewati medan jalanan yang menurun tak beraspal.

Ujung dari turunan ini memberikan bonus tanjakan yang lumayan panjang rata-rata biker menuntun sepedanya, hingga sampai diujung tanjakan. Jalan ini yang akan menuju kea rah Pasar Lembang. Tepatnya sebelah barat pasar Lembang. Lalu kami berhenti di Masjid Lembang karena sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang. Sambil beristirahat, ada yang photo-photo naciscus, ada yang ngobrol berkelompok ada yang jajan minuman dingin untuk menghilangkan dahaga.

***

Setelah selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim dan istirahat yang cukup, perjalanan pun dilanjutkan menuju salah satu rumah makan sunda yang menyajikan menu masakan khas sunda. Nasi merah, nasi putih, sea food, Daging sapi, Aneka Ayam, tempe tahu, PETE, dan sayuran hijau segar telah tersedia di meja. Dengan lahapnya kami pun mulai menyantap hidangan yang tersedia. Nikmat sekali makan siang kali ini secara tadi pagi hanya sarapan bubur ayam. Perut yang keroncongan pun kini padat berisi, kenyang dan tenaga pun pulih kembali diiringi rasa kantuk yang mulai menyerang.

Dari arah rumah makan, lurus dan belok kiri, maka habis belokan itu akan menemui makadam yang akan menuju Boshca. Kembali, republic TTB rame-rame mendorong sepedanya menuju puncak boshca. Dari puncak Bocsha jalanan menurun dengan single track dan tanah yang tidak licin sehingga sangat menyenangkan tapi perlu kehati-hatian karena banyak jebakan.

Akhir dari turunan ini menembus eldorado dan menyebrang jalan raya kembali menemukan jalan menurun dan single track yang akan menuju ke pondok hijau. Di kawasan inilah adrenalin kita diuji dengan turunan rumput curam, hanya biker yang bernyali besar yang dapat menuruninya. Sementara saya dan beberapa biker lainnya lebih memilih jalur kiri yang lebih aman. Dan turunan ini pun sukses dilalui teman-teman tanpa ada yang terjatuh dengan luka serius.

Puas prosotan, perjalanan dilanjutkan dengan kembali menapaki jalanan aspal pondok hijau menuju area hijau dengan bonus tebing curam, karena medannya terlalu curam banyak yang mengundurkan diri mencobanya. Banyak yang terjatuh disini tapi senang karena jatuhnya ke rumput, Pa Riki juga CIUT nyalinya setelah melihat ada yang jatuh dan lebih memilih turunan aman.

Setelah prosotan terakhir rombongan pun menuju KPAD di jln Topologi yaitu rumahnya Kang Aris (ROGER 03) sebagai finish akhir dan selanjutnya kami berpisah disini, Semoga perjalan kali ini bisa menambah arti kehidupan, untuk apa kita hidup dan akan kembali kepada siapa kita ini.

Popularity: 7% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Warung Bandrek, Petualangan yang terjanjikan

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 9:56 pm

Bandung, 20 Desember 2008

bandrek_k

Matahari masih belum bersinar begitu terik sinarnya masih berwarna keemasan, disaat 2 pasang roda sepeda mulai melaju kearah perbukitan bandung utara, Tahura. Di kala sebagian orang lebih memilih tetap berbaring di kasur yang empuk dan berselimut hangat di dinginya pagi, kami sudah basah bercampur keringat memulai perjalanan demi sebuah petualangan yang niscaya akan memperkaya arti sebuah kehidupan. Start dari McD Dago, saya dan Abah memulai petualangan hari ini, menelusuri jalanan aspal dan makadam, mendaki tanjakan putus asa, menikmati view panorama dari dataran atas. Menghirup segarnya udara pagi pegunungan yang belum terkontaminasi oleh pekatnya polusi.

Bunga ilalang yang berwarna putih bergoyang-goyang tersapu angin pagi, disepanjang tanjakan putus asa yang tumbuh begitu subur, diantara biji yang ringan berwarna putih bercampur sedikit coklat tua, angin di musim penghujan telah membawanya ke suatu tempat agar kelak perkembangbiakannya bertebaran dimuka bumi. Bunga ilalang adalah permain popular masa kecil, untuk “menipu” teman biasanya kami menggodanya bahwa batang dibawah bunga ilalang manis seperti sebatang tebu yang sudah dikupas, sehingga ia mencicipinya dan memakannya, dengan secepat kilat tangan ku menarik ujung ilalang itu hingga bunga yang seperti kapas masuk semua di mulutnya. Ini adalah permainan hiburan pengisi waktu luang disaat istirahat bermain bola.

Tanjakan putus asa itu membuat nafas kian sesak dan terasa perih di tenggorokan seiring menipisnya oksigen, detak jantung berdebar makin kencang, gowesan semakin berat, tenaga serasa makin berkurang, Aku ingin cepat-cepat sampai ke warung bandrek. Warung bandrek sudah menjadi pemicu dan membuat aku bersemangat agar tetap sabar dan semangat melaju di tanjakan. Warung itu seakan menjadi magnet bagi kami untuk senantiasa berkunjung ke tempat itu walaupun harus melewat tanjakan yang panjang.

Warung bandrek, sesuai dengan namanya warung ini menjual bandrek dan berbagai anek gorengan, tempat ini pun terkenal di dunia pesepeda gunung, tempat berkumpulnya para biker. Menikmati bandrek susu diudara dingin sebagai penghangat tubuh, bercengkrama dengan kawan-kawan lama, menikmati view kota Bandung di pagi hari nan sejuk dan indah.

Puas menikmati teh manis dan dua buah gorengan hangat, perjalanan kami lanjutkan, kini kami melewati single track, jalan yang menakutkan karena dilapisi oleh akar dan batu. Dijalan ini kami istirahat sambil menunggu abah yang sedang menelepon ambu, sesekali sambil membetulkan rante sepeda yang terlepas karena goncangan yang berulang-ulang. Abah memang perhatian sama ambu disaat-saat bersepeda pun abah sering berhubungan keluarganya. Bahkan abah pun sering bercerita tentang putrinya yaitu Zahra Ilma Zaidan, putri yang diamanahi oleh Alloh kepada abah.

Single track itu menembuskan kami kearah maribaya, kawasan wisata air terjun yang terkenal. Jalan tadi mengarahkan kami ke jembatan penghubung antara tahura dengan maribaya. Di pagi ini sudah banyak pengunjung yang sengaja untuk berolahraga di alam terbuka. Dari jembatan ini, trek dilanjutkan dengan naik kembali ke atas menyusuri jalan bertembok dan tembus ke jalan raya maribaya, dan jalan ini yang akan menuntun kami menuju ke arah pasar lembang.

Setelah melewati pasar lembang kini kami berbelok ke arah kiri, melewati sedikit makadam dan menanjak. Maka habis tanjakan itu kami tiba di area bochsa yaitu area penerpoogan bintang. Dari sini kami akan melewati turunan single track sampai menuju ke arah eldorado yang selanjutnya akan melewati jalan raya sethiabudi. Tetapi kami hanya memotong saja sedikit dan dilanjutkan ke single track lagi yang akan menuju ke Pondok Hijau.

Inilah kawasan surga pesepeda Downhill, tebing yang ditumbuhi oleh rumput ini adalah tempat yang paling asyik untuk dijadikan tempat beramain, Bersepeda, ada yang prosotan, ada yang photo praweding, atau hanya nongkrong di puncak bukit. Disini saya dan abah mengulang naik-turun dengan sepeda sampai kali ketiga.

Setelah jalur ini kita akan melewati pintu gerbang perumahan pondok hijau dan tembus ke gegerkalong. Saya dan abah berpisah disini. Trip kali ini saya rasakan sangat puas.

Siapakah yang tidak dapat mensyukuri keindahan alam ciptaan yang Maha Kuasa?? Hanya orang-orang yang miskin hatinya saja, atau orang-orang yang tidak mau bersyukur atas anugrah yang telah Alloh SWT berikan.

“Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan”

Doakan kami tanggal 2 Januari 2008 kami akan gowes ke Cidaun-ciwidey-Dewata-Wayang Windu.

Taryana Jangkaru, adalah seorang pesepeda gunung, Mahasiswa dan karyawan pers Swasta.

Popularity: 8% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Pangalengan Yang Penuh Petualangan

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 9:52 pm

3250025096_9580bf0043

Pangalengan 16 November 2008

Kabut masih saja menyelimuti desa, disaat mentari malu-malu untuk menampakan diri di minggu pagi. Segerembolan ibu-ibu pemetik teh dengan topi lebar yang khas mulai menapaki jalanan aspal menuju perkebunan teh. Udara pagi pedesaan begitu segar dan terasa dingin menusuk tulang. Hilir mudik penduduk desa, petani sayuran dan petani susu sudah menjadi pemandangan yang khas setiap pagi.

Pagi itu kami berjalan-jalan disepanjang perkebunan teh. Perkebunan teh malabar bak permadani yang terhampar luas dibumi pangalengan. Sebagai karya besar diantara karya-karya besar Bosscha. Di Pagi itu pulan nampak para pencari kayu bakar dari pohon teh sudah pulang dengan membawa seikat besar pohon-pohon teh diatas kepalanya. Menembus embun-embun pagi yang masih membasahi rumput setelah hujan semalaman mengguyur pangalengan.

Di aera perkebunan teh terdapat makam Bosscha, peristirahatan terakhir itu begitu rimbun diteduhi oleh pohon-pohon besar. Bosscha merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa penjajahan belanada dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi. Dipinggiran makam terlihat petugas sedang menyapu, Beliau yang diamanahi untuk menjaga kebersihan dan kerapihan makam boscha. Sejurus kemudian setelah meminta izin kami diperbolehkan untuk memasuki makam bosca yang berukuran bulat dengan tulisan-tulisan yang tidak saya mengerti.

Sekitar pukul 10.00 wib, Kami yang terdiri dari team Mandala Adventure, para peserta, Instuktur tiba di situ cileunca. Para peserta sedang brefing untuk membuat rakit dari bambu dan ban. dan dibuat beberapa tim. rencanya tim ini akan menyebrangi danau sampai ujung dan balik lagi ke tempat start. Sementara saya sepedahan mengelilingi situ cilenca melewati bendungan sebelah timur sebagai jalan menuju tepian danau.

Tepat kumandang adzan duhur para peserta selesai dan bersitirahat. Sebagian diantaranya melaksanakan shalat dzuhur. Kami pun bergantian melaksanakan ibadah shalat duhur. Setelah selai shalat duhur kami pun makan siang dengan menu istimewa. Setelah isitrahat sesaat para pwserta kemabli di brefing karena akan melaksanakan arung jeram aliran sungai situ cileunca.

Terdapat 7 buah perahu yang dilengkapi pemandu dimulai dilepas satu persatu untuk menjelajah sungai. Wajah-wajah kegembiraan bercampur ketegangan terlihat dari wajah-wajah peserta. Mereka begitu menikmati petualangan yang begitu memacu adrenalin.

** Kejadian menegangkan

Ketika memasuki turunan curam, aku pun siap menjpret setiap momen yang menegangkan, benar saja ketika ada seorang wanita yang jatuh dari perahu, badanku tiba-tiba terdiam dan kaget kamera yang saya pegang tidak sempat mengambil gambar-gambar menegangkan tersebut. Badanku seperti kaku, seakan terhipnotis oleh kejadian tersebut, diam sesaat. Seperti adegan mahar dalam film laskar pelangi yang telah siap dan yakin akan menjawab pertanyaan, akan tetapi ia kaget begitu terjepret oleh kamera dan cahaya dari blitz. Yang mengakibatkan pertanyaan dijawab oleh grup lain.

Kami tidak bisa mengikuti sepanjang aliran sungai karena medannya sangat sulit untuk dilalui dengan sepeda. Sesampai dijembatan lalu kami memotong arah melewati perkebunan teh dan menunggu para peserta dilintasan finish sebelum bendungan dimana setiap peserta arung jeram selalu berhenti disini.

Langit mulai mendung kembali, segera saja kami berkemas menaikan sepeda ke mobil. Benar saja setelah kami beres menyusun sepeda hujan mulai mengguyur lebat. Mengalir diantara selokan-selokan yang selanjutnya bermuara disungai. Setelah pamitan pada panitia dan para peserta kami pun pulang ditemani hujan yang mengguyur jalanan bebatuan tak beraspal sepanjang kebun teh.

*** Terimakasih Kepada Ust. Amri, Bpk Dandi, Kang Agus, Teh Dewi, Manadala Team, Hotel Citere, Mandala-Set Wapres ***

Popularity: 8% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Kuliah di Cartil, Wisuda di Warban *

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 8:50 pm

P1020119

Perjalanan hari Minggu (28/6) ke Caringin Tilu itu sulitnya bukan main. Sesulit saya menyelesaikan report yang biasanya sudah muncul di hari Senin atau Selasa.

Kenyataannya, saya baru bisa menampilkannya di hari Kamis, setelah tertunda beberapa hari, karena kesibukan di tempat kerja pula. Namun, berperjalanan bersama guru Taryan dan para muridnya, buat saya selalu bermakna dan juga menyenangkan.

Hari itu, kami pergi berenam plus satu. Enam adalah para peserta yang dijanjikan datang, sedang satu orang tambahan bergabung di perjalanan. Selain saya dan Taryan, mereka adalah para murid kambuhan macam Pitra onta, Bintang ‘Sniper’ Ginanjar dan Robi Iskandar, juga murid baru Febby Lorentz dan Hariman Bahtiar yang bergabung belakangan. Oki Jeli batal bergabung karena merasa kurang fit di hari itu.

Trek yang direncanakan dalam undangan yang dikirim Taryan, sang pengantin baru, adalah Padasuka-Caringin Tilu-Warung Bandrek. Jalur ini adalah jalur yang dibalik dari kelaziman. Biasanya orang akan pergi ke warban, lalu pergi ke Caringin Tilu untuk selanjutnya berakhir di Padasuka.

Taryan memberi judul undangan gowes itu dengan ‘kuliah di cartil, wisuda di warban’. Maka, tak heran jalur ini, seperti yang dibilang kang Bayu Why, pesepeda senior Bandung Timur, bakal bikin susah. “Tanjakannya amit-amit,” katanya.

Maka, seolah menjawab rasa penasaran, kami bertujuh pun berkumpul dan beranjak pukul tujuh tigapuluh dari surapati core, tempat pertemuan yang dijanjikan. Lalu, seperti yang sudah diperkirakan, tantangan kami pada jalur ini mendapat jawabannya lewat napas yang kemudian mengalir lebih cepat dan tak teratur, juga kaki lemas karena mengayuh tanpa henti, padahal masih seperempat perjalanan.

Di sebuah pertigaan kami berhenti. Beristirahat sambil menunggu untuk re-grouping rombongan. Pantas saja, jarang ada yang mengambil jalur ini saat akan bersepeda ke warung bandrek. Setidaknya tidak sebanyak pesepeda warban saban akhir pekan. Ternyata karena tanjakan-tanjakannya seolah tak berakhir.

Akhirnya, setelah susah menempuh tanjakan-tanjakan curam tanpa henti itu, terlihatlah caringin tilu. Tempat ini, konon dulunya adalah tempat di mana ada tiga pohon caringin (beringin-pen) besar tumbuh. Kini, caringinnya tinggal satu. Menurut mitos, ketika rezim Soeharto jatuh, salah satu caringin roboh. Cerita yang lantas begitu saja mengingatkan saya akan salah satu novelnya (Alm.) Kuntowijoyo.

Caringin tilu kini mewujud jadi tempat wisata alternatif. Tempat melihat view Bandung dari arah timur. Lanskap yang luas bisa dinikmati dari saung-saung makan yang dibangun beberapa ratus meter menjelang lokasi caringin berada. Koran lokal pernah mengangkat tempat wisata ini. Mirip punclut katanya, namun masih lebih tinggi lagi. Saya tidak tahu berapa ketinggiannya, tak ada yang membawa GPS di rombongan kami, tapi lanskapnya cukup indah, apalagi jika malam menjelang.

Tapi, usai caringin tilu pun ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi. Kami pergi ke sana usai berhenti kembali di sebuah warung sederhana dengan menu spesial roti selai gula kelapa. Cukup nikmat disantap sebelum masuk jalan setapak menuju hutan pinus batu lonceng. Ah iya, masih juga menanjak.

Di hutan pinus itu kami berhenti lagi. Setelah menjumpai turunan sebentar, seolah tak bosan, kami menanjak lagi. Tapi, kata guru Taryan yang (lagi-lagi) jadi tour leader, sebentar lagi berakhir. Benar saja, setelah sebuah tanjakan yang bahkan sang guru pun TTB, semua tanjakan itu berakhir.

Bonus pun menanti. Di tempat di mana 1PDN TTB, kami malah meluncur cepat. Hehehehe, itu karena jalurnya terbalik. Turunan ini mirip-mirip Jayagiri, namun lebih curam dan tak terlalu panjang. namun cukup memuaskan kami yang dari tadi hanya menjumpai tanjakan dan tanjakan belaka.

Meskipun begitu, kesenangan itu harus dibayar oleh Hari yang jatuh dan anting sepedanya bengkok. Sebentaran diakali sana-sini, akhirnya perjalanan di lanjutkan. Jalur setapak rumput itu berakhir di jalan aspal mengular yang menurun.

Namun, keasyikan ‘lalayaran’ – merujuk pada perahu layar ketika angin kencang – tak dikayuh pun sepeda meluncur cepat karena turunan, itu harus berakhir. Seolah hanya sekejap saja terasanya. Bukan karena ada tanjakan lagi, namun tiba-tiba saja kami tiba di warung Bandrek.

Bandung, Suniaraja: 2 Juli 2009

* courtesy of Taryan Taryana

Popularity: 8% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

"Anda Puas Beritahu teman, AndaTidak Puas Beritahu Kami" *

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 8:43 pm

“Anda Puas Beritahu teman, AndaTidak Puas Beritahu Kami”*

Trip Tangkuban Perahu-Jayagiri-Boscha-Eldorado
9
Sabtu (30/5) kemarin, Bersepeda bersama Taryan, menjamu tamu yang tak suka tanjakan. Perjalanan kali ini menyajikan pengalaman bersepeda dengan teman baru juga kejutan tak terduga di penghujungnya.

Maka, ketika Taryan mengajak saya dua hari sebelumnya,”Abdi teu aya rencang, bah,” ungkap Taryan yang langsung saja saya iyakan. “Hayu lah!” sambut saya dengan semangat.

Rombongan yang akan kami antar, bahkan saya tak tahu jumlahnya berapa. Jika merujuk pada pengalaman Taryan mengantar rombongan Bekasi yang sampai 70 orang, mungkin kami akan sibuk sekali di trip kali ini.

Tapi, sesampainya di UPI, tempat meeting point yang dijanjikan, akhirnya ketahuan bahwa yang berangkat adalah rombongan kecil, enam orang peserta, dua mobil kijang dan dua orang sopir. Hmm, trip ini tampaknya bakal menyenangkan.

Sepeda yang kami bawa pun diangkut, disatukan dengan yang lain dalam satu mobil yang khusus membawa sepeda yang sudah dipreteli dulu. Lalu, sekira pukul delapan, kami meluncur ke Tangkuban Perahu.

Belakangan para peserta kali ini, Iqbalsyah Muhammad, Djodi Prabandhoko, Haykel Michel, Yurivanno Gani, Ryan dan Denni Hidayat, tergabung bersama dalam satu kantor di Asuransi AIA di Jakarta. Mereka tampak akrab sekali satu sama lain. Seperti kebanyakan orang Jakarta yang senang bercanda dan tertawa-tawa. Sebagian tampak mengenakan kaos bertuliskan Robek dengan font mirip Reebok, singkatan dari Rombongan Bekasi.

Oom Haykel sang kepala suku bercerita kalau beberapa dari mereka belum pernah menjajal alam bebas seperti di dataran tinggi Bandung. Sebagian tinggal di Bintaro, BSD dan Bekasi, di mana track yang sering dilalui tak banyak menjanjikan kesenangan. Di Jakarta, menurut dia, tak banyak track yang menantang seperti Bandung utara. Datar-datar saja dan gersang.

Maka, ketidaktahuan selalu memunculkan kesiagaan. Saat unloading sepeda dan bersiap-siap, semua perlengkapan safety pun digunakan. Helm full face dan protector terlihat di sana. Mengantisipasi medan yang belum pernah dijajal.

* * *

Di Tangkuban, setelah berdoa dan briefing, kami melakukan pemanasan dulu. Naik ke kawah ratu dan berfoto-foto di sana. Baru dari sana, turun dan masuk track Jayagiri 2, via Benteng Belanda dan berakhir di Pangkalan Ojeg Lembang.

Tapi, celakanya, turunan selalu saja melenakan. Sebagian besar rombongan malah lurus ketika harus belok di parkiran bus. Saya yang di belakang sebagai tim penyapu pun tak bisa menyusul mereka. Hingga nyaris gerbang dua Tangkuban (yang lebih dekat ke arah Ciater), baru mereka sadari bahwa jalan yang ditempuh bukan jalan yang benar.

Untunglah, haykel sang kepala suku bisa mengontak Budi dan Parno, sopir yang mereka bawa. Akhirnya, empat orang tersesat berhasil dievakuasi dengan mobil. Maka acara tersesat itu memunculkan istilah “Untung Ada Budi.”

Sedang saya yang ikut tersesat, mengikuti saran Taryan, mendapatkan bonus tanjakan dari atas gerbang hingga parkiran bus. Alhamdulillah.

* * *

Perjalanan seperti dimulai dari awal lagi. Terutama setelah masuk track tanah Jayagiri yang tampak rusak oleh motocross. Beberapa kali sepeda harus dituntun dan diangkat. Beberapa tampak kesal karena tak kunjung menemukan apa yang dibayangkan. Hingga akhirnya, single track yang layak gowes setelah pertigaan warung tengah hutan jadi bonus turunan yang menyenangkan.

Sehabis lewat Benteng Belanda dengan pemandangan pinus di kiri kanan bonus turunan pun bertambah. Terlebih dengan view alam Bandung utara begitu memanjakan para tamu dari Jakarta. Kali ini lebih curam dari sebelumnya. Beberapa peserta terjatuh. Tapi saya yang tanpa protector malah terjungkal hingga empat kali, meski tanpa cedera yang serius.

Turunan pun berganti ketika hendak masuk perkampungan penduduk. Kali ini jalan setapak semen yang disambung jalan aspal menanti. Di sini pula Oom Haykel harus mengganti ban dalamnya yang gembos. Di depan, ternyata Djodi malah harus mengakhiri petualangan yang sejatinya dilanjut ke Boscha karena rim yang dia gunakan bengkok.

Keluar Jayagiri, kami beristirahat sebentar di Masjid Agung Lembang, lalu makan siang di RM. Brebes. Sampai jam 3, dari sana kembali pedal off untuk melanjutkan petualangan. Boscha yang berakhir di Eldorado.

Langit sudah tampak hitam ketika sampai di puncak Boscha. Sebentar lagi hujan turun. Kalau hujan turun sebelum Eldorado, tak terbayangkan bagaimana licinnya. Maka, kami pun bergegas. Melahap turunan single track tanah dan rumput yang panjang hingga pertigaan perkampungan yang tembus ke Eldorado. Tepat setelah di sana, hujan turun dengan derasnya. Kami basah kuyup kehujanan.

Karena deras, kami tak jadi ke Pondok Hijau. Berteduh sebentar di rumah seberang Eldorado, Oom Haykel mengontak Budi dan minta dijemput di pom bensin Setiabudhi di atas Ledeng.

* * *

Di Pom bensin rombongan berganti baju yang telah basah, dan kami memutuskan berpisah di sini. Saya dan Taryan menyalami para tamu, ber-say goodbye, juga bertukar telpon. Perjalanan yang menyenangkan buat saya. Mengenal teman-teman baru yang tak suka tanjakan.

Saya dan Taryan turun bersama hingga Geger Kalong. Di jalan, Taryan bilang kalau tamu-tamu dari Jakarta itu berterimakasih dan menyelipkan sesuatu saat salaman. Salam tempel rupanya.

“Abdi dipasihan artos, bah,” katanya. “Janten asa ararisin, kieu, nya!” obrol Taryan. “Muhun nya, asa teu raos,” timpal saya.

Sejujurnya, ini pengalaman baru buat kami. Tak heran, muncul rasa sungkan yang tak biasa.

Taryan yang baik dan rendah hati lalu membagi rasa sungkan itu pada saya. Saya jadi ikut sungkan. “Rejekina Zahra, Bah,” ungkap Taryan saat kami berpisah. Saya tersenyum.

Terima kasih buat teman-teman baru dari Jakarta, untuk apresiasi dan pengalaman baru yang menyenangkan. Padahal semua pesepeda adalah saudara, namun Tuhan memberi rejeki dari jalan yang tak pernah bisa diduga.

Bandung, Suniaraja, 1 Juni 2009.
*) dikutip dari sebuah kedai Baso di Jatinangor sepuluh tahun silam.

Popularity: 7% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Sudah Saatnya Taryan Menjadi Guru

Writing by taryana on Tuesday, 15 of September , 2009 at 8:41 pm

P1019230

Perjalanan Mencari Menara Sukawana

Sudah nyaris sebulan saya tak bersepeda di akhir pekan. Hingga akhirnya, Sabtu (14/3), bersama Taryan Taryana saya kembali ke Sukawana lagi. Sukawana memang selalu menyajikan pesona. Setidaknya, saat diabadikan kamera.

Untuk beberapa hal terkadang realitas memang lebih baik disajikan dalam bentuk gambar-gambar. Boleh jadi, karena gambar tak pernah bisa menangkap bagaimana dengusan napas yang dipaksa keluar maksimal saat menghadapi tanjakan panjang. Atau, bagaimana dengkul yang tak bisa lagi diajak kompromi, saat tempat tujuan tak juga terlihat.

Tapi itu terjadi nanti, ketika siang sudah sangat menjelang dan telapak tangan tak lagi kuat menahan sakit kulit yang terkelupas. Seolah mewakili perasaan ‘kecewa’ akan misi yang gagal di hari itu. Esok harinya, di status y!m, Taryan menulis, “target gagal, misi uncomplete”

* * *

Perjalanan ini sesungguhnya mendadak adanya. Saya mengirim pesan singkat pada Taryan pada Jumat malam, menanyakan apakah ada rencana bersepeda esok harinya. Lalu, esoknya, sekira pukul 5.30, Taryan menelpon. Sempat berdiskusi, akhirnya saya membuat Taryan memajukan rencana ke Sukawana. Sedianya dilakukan sore hari, berubah menjadi pagi-pagi. Tadinya sendirian, kini ada teman.

Tapi, yang berubah adalah waktunya. Tujuan perjalanan masih seperti yang Taryan tetapkan: Mencari Jalur ke Tower Sukawana.

Maka, berangkatlah saya menemui Taryan di Komplek Taman Cihanjuang, depan Alfamart. Setelah melewati Jalan pesantren dan Cihanjuang, juga melewati belokan ke Sariwangi dan kawasan wisata ‘all about strawberry’.

Nyaris tepat Pukul tujuh kami berjumpa. Selanjutnya, perjalanan berlangsung seperti biasanya. Jalur ini belum pernah saya coba sebelumnya dengan sepeda. Kalau pakai motor atau mobil, sih, sudah beberapa kali. Agak lumayan curam nanjaknya di beberapa titik, meskipun di antara tanjakan-tanjakan curam itu ada beberapa yang mendingan. taryan menyebut tanjakan sedang itu ‘untuk recovery’.

Kami sepakat, diantara jalur Ciwaruga, Cihideung dan Cihanjuang, yang sudah pernah kami lewati, jalur Cihanjuan ini dirasakan yang paling berat. Jalur ini berakhir di Universitas Advent Indonesia Parongpong, tempat kami beristirahat untuk kedua kalinya.

Selanjutnya, seperti yang sudah-sudah, kami ke Sukawana lewat Villa Istana Bunga, hingga gerbang kecil yang merupakan jalan setapak menuju kawasan PTPN VIII Sukawana.

Di sana, kami ‘dijamu’ oleh teh dingin, yang terhampar luas di depan mata. Hijau berderet bagaikan karpet. Beberapa kali pemandangan serupa ini kami lihat, tapi tak henti kami menikmatinya. Menyusuri jalan tanah berbatu, di mana teh terhampar di kanan-kirinya. Terkadang, kabut turun menjemput. Datang bersama udara dingin yang membawa sedikit oksigen.

* * *

Pukul 10 lewat kami sampai di tempat paling tinggi di perkebunan itu. Hamparan teh berakhir di sini. Seorang pemburu burung memberitahu kami arah jalan menuju Tower. Sepertinya memang tidak jauh lagi.

Kami masuk ke jalanan berkerikil yang agak lebar. Ukurannya selebar satu buah mobil atau truk. Diselingi batu-batu berukuran sedang dan besar dan kelokan-kelokan yang terus menanjak.

Sepanjang perjalanan saya terus mengekor Taryan. Terkadang, dia tak lagi terlihat, apalagi ketika dia terus mengayuh, sementara saya banyak terhenti.

Hingga suatu saat setelah masuk jalan ini begitu jauh, hutan semakin lebat saja. Sudah tampak bagaikan rimba. Di depan, Taryan menunggu saya. Lalu, dia menemani saya yang semakin payah. Dari sini Kami menuntun sepeda bersama. Di satu titik, kami berhenti. Rasanya tak habis-habis jalan ini. Melunturkan semangat kami yang ingin sampai di menara. Tapi, menara tak jua terlihat di sana, dan hari makin siang saja.

* * *

Ketika tenaga nyaris habis, saya pikir bisa menikmati turunan panjang yang bakal dijelang. Nyatanya saya salah. Turunan dan jalan berbatu adalah kombinasi terbaik untuk menyiksa lengan. Alhasil, telapak tangan kanan saya habis tergesek karet handle bar. Biarpun berbungkus sarung tangan, tetap tak kuasa menahan lecet yang berbuah kulit terkelupas.

Maka, turunan tak lagi bisa saya nikmati. Ketika perih melanda, sementara saya tak punya pilihan lain yang bisa dilakukan. Biasanya, turunan setapak di kebun teh ini menjadi hal yang menyenangkan, tapi hari itu, saya mesti sedikit melambatkan laju sepeda dan berharap cepat sampai di masjid PTPN.

Di masjid, luka di telapak tangan mulai dibersihkan. Dinginnya air membuat tangan sedikit kebas. Baal, orang Sunda bilang. Anggap saja anestesi lokal.

Sehabis shalat, perlengkapan P3K pun dikeluarkan. Untunglah sedikit betadine dan balutan perban, juga jalan yang tak lagi berbatu membuat segalanya jadi lebih mudah.

Kami kembali ke jalur yang sama saat pergi. Balutan perban sedikit mengurangi penderitaan. Pukul satu lewat kami sudah meninggalkan Istana Bunga dan masuk ke jalan Cihanjuang. Kali ini menurun, dan saya jadi lebih hati-hati. Di Taman Cihanjuang, kami berpisah, sementara awan hitam mulai menggayut, janjikan hujan yang kelihatannya sudah mulai turun sedikit demi sedikit.

* * *

Perjalanan bersama Taryan memang selalu menyenangkan. Banyak percakapan yang dipertukarkan. Banyak pula hal-hal lain selain sepeda yang dibicarakan.

Seorang teman menggelarinya sebagai murid utama Ustad Amri. Pesepeda handal yang katanya punya hobby manajemen. Seorang motivator yang telah wara-wiri di berbagai media. Di kalangan pesepeda, Pak Ustad ini terkenal akan ingatannya yang luar biasa akan jalur-jalur di hutan.

Di satu kesempatan, Taryan mengaku bahwa orang yang menularkan ‘virus’ bersepeda padanya adalah Ustad Amri. Tak salah-salah amat jika Taryan disebut sebagai murid utama Ustad Amri. Dalam beberapa foto bersepedanya Ustad Amri, Taryan kerap terlihat di sana.

Perjalanan kali ini sepertinya membuktikan hal itu. Bahwa Taryan adalah sang murid utama. Keinginan mencari jalur-jalur baru dan mengingatnya dengan baik, dan terutama ketangguhannya dalam melakukan hal itu. Butuh modal lebih dari sekedar dengkul ’shimano’ atau napas ‘Microban’ untuk melakukannya. Butuh kesabaran ekstra untuk tidak cepat frustasi saat tempat yang dituju tak juga tercapai.

Tapi buat saya,ada hal lain yang lebih berarti. Sejak perjumpaan pertama di acara bersepeda bersama Mojang Jajaka beberapa bulan lalu, Taryanlah yang banyak membawa saya bersepeda agak jauh. Terkadang berdua saja.

Perjalanan terakhir sebelum ini sudah membuktikan, bahwa sang murid utama sudah saatnya menjadi guru. Perjalanan kali ini seolah menahbiskan kenyataan itu.

Tabik!

Bandung, Suniaraja, 170309: 15.00

Popularity: 7% [?]

Leave a comment

Category: Adventure

Sekapur Sirih

Blog ini hanyalah catatan teknis yang diambil dari masalah yang dihadapi dan cara penyelesaiannya, berisi kutipan, editan, atau hasil experimen pribadi yang hasilnya ditujukan untuk diri pribadi khususnya dan kepada umum sebagai catatan tangan untuk mengingatkan jika suatau waktu lupa atau membutuhkannya, semoga membantu. Salam taryan
YM :