Ocean Mist

15 Sep 2009

Hiking Musim Kemarau, Mengelilingi Puncak Gunung Tangkuban perahu.

Posted by taryana

“Hidup itu baru terasa manis setelah kita menjalani perjalanan panjang dan pahit, melelahkan dan penuh rintangan…”

zaki

Udara pagi musim kemarau terasa dingin menusuk tulang, tapi itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk berpetualang di “long weekend” ini. Berbeda dengan petualangan yang lalu, kali ini saya ditemani mantan pacar, yang akan menambah serunya petualangan kali ini.


Seperti biasa meeting point dilakukan di pertigaan jalan sukawana – kol. Matsuri, tepat sebelah timur terminal parongpong yang dilalui oleh trayek Ledeng – Parongpong, Cimahi – Parongpong, dan Lembang – Parongpong. Kali ini saya berangkat dari cicadas menuju ke terminal ledeng dan selanjutnya menuju ke arah terminal parongpong, tepat pukul 8.00 saya tiba di tempat start.

Peserta kali ini terdiri dari 9 orang, yang terdiri dari saya dan istri, kang Ahdi dan Suci Fitri Yanti, Anggit dan Dewi, Hanny Suhaeni, Zakiyah nurul falah dan peserta baru yang masih imut-imut yaitu Mutia. Dari kedsembilan peserta terdapat peserta termuda, Dewi, yang baru menginjak bangku kelas 5 SD, walaupun masih kecil tapi semangat petualangannya mengalahkan teman-teman yang lain. Rencana awal berangkat pukul 8.00, akan tetapi kali ini harus ‘ngaret’ setengah jam karena harus saling menunggu, hingga perjalanan baru bisa dimulai sekitar pukul 8.30. Akibatnya sinar matahari pun mulai terasa panas menyinari seiring keringat yang mulai bercucuran.

Perjalanan dimulai dengan menapaki makadam berdebu yang menuju ke pabrik teh milik PT PN VIII, sesekali ada truk dan motor yang melintas membuat kami harus ‘aktung’ kependekan dari aksi menutup hidung karena debu yang begitu mengepul dikhawatirkan akan ikut memasuki paru-paru kami. Lalu memasuki area perumahan para karyawan pabrik teh yang merupakan kampung paling pinggir yang berbatasan langsung dengan kebun teh.

Sesekali ditengah perjalanan kami saling berbagi makanan ringan yang dibekal dari rumah, canda tawa, saling ejek, atau berteriak sekencang-kencangnya menghilangkan kepenat yang ada setelah jenuh bekerja. Cuaca yang cerah dan panas membuat minuman yang kami bawa cepet ludes. makadam menanjak panjang berkelok-kelok dan sinar matahari yang mulai terik membuat kami harus sering istirahat untuk kembali mengumpulkan tenaga. Udara yang sejuk serta panorama sukawana yang eksotik mengobati kelelahan kami agar cepat-cepat sampai ke tujuan, kawah upas.

Akhirnya kami tiba dipinggiran kebun teh sukawana yang sekaligus berbatasan dengan hutan tangkuban perahu, kontur tanah masih tetap menanjak, kami pun melanjutkan perjalanan pelan-pelan agar tidak kelamaan dijalan. Lalu kami kembali menemukan jalan makadam panjang berkelok-kelok dan terlihat seperti tak ada ujungnya. Dengan rasa penasaran kami terus menyusuri makadam itu hingga terlihat dengan jelas menara-menara tangkuban perahu yang biasa kami lihat dari kejauhan.

Habis makadam itu kami menyusuri jalan setapak berbatu yang menuju ke kawah upas, tepat ketika waktu menunjukan pukul 1.00, kami sampai juga dikawah upas, disana nampak pula sekawanan penghobi motor cross sedang menikmati pemandangan kawah upas yang jarang dilalui oleh wisatawan itu, karena letaknya memang yang susah dicapai oleh kendaraan beroda empat atau pejalan kaki karena letaknya sebelah barat kawah utama yaitu kawah ratu.

Keindahan kawah yang mempesona kami lalui untuk kembali menyusuri jalan setapak yang akan menuju ke penelitian petir milikk ITB, menuju kearah timur. Mengejar makan siang yang memang sudah telat dari waktunya, “salatri” kami bilang. Turun sedikit kearah parkiran kami menemukan tempat makan dengan view pemandangan yang indah.

Perut yang kosong setelah berjalan selama 5 jam dan dinginnya udara serta “view” pemandangan yang indah membuat kami cepat-cepat ingin membuka bekal kami. Saking laparnya kami makan begitu lahapnya dengan nasi yang sudah dibekal dari rumah. Ditemani dinginnya udara yang berhembus serta sekali-kali kabut meniup ke arah kami. Ah, rasanya makan siang yang sangat nikmat. Walaupun dengan lauk seadanya. “maka nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan”.

Selesai kami makan dan istritahat, perjalanan dilanjutkan menuju parkiran bawah untuk melaksanakan shalat dan memenuhi panggilan alam. Secara bergantian dan saling menunggu barang-barang, tepat pukul 16.00 kami mulai bersiap kembali untuk menuruni jalan utama menuju jayagiri, akan tetapi ditengah perjalanan salahsatu diantara kami mengajukan untuk naik angkot, akhirnya kami mencarter angkot gelap untuk mengantarkan kami ke Lembang. Setelah tawar menawar harga pas tancap gas akhirnya kami pulang menuju lembang dengan menyisakan kelelahan yang lumayan. Disambung lagi dengan naik lagi angkot jurusan Lembang – ST. Hall dengan tujuan ledeng, karena kami punya tujuan pulang yang berbeda maka kami berpisah diterminal ledeng. Sampai disini pun kami berpamitan.

Sempat tersesat

Sebagai misi menyelesaikan “target uncomplete” ketika kami bersepeda beberapa bulan yang lalu sebagai pencarian menara sukawana bersama abah, kali ini harus komplit. Walaupun belum tahu jalan tapi saya penasaran ingin menuntaskan misi itu, walau dengan berjalan kaki, tanpa menunggang sepeda. Akibatnya kami tersesat ke tower ujung makadam, untunglah ada bapak penunggu menara yang memberi tahu kepada kami bahwa jalan yang kami lalui salah jika tujuan kami ke kawah upas.

Jalan itu katanya akan menuju ke Panaruban atau ke Situ Lembang yang akan berakhir di Lawang angin, area plang komando CiSarua. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya kami memutar arah untuk kembali melalui jalan yang benar, karena sesuai petunjuk bapa penjaga tower, kami harus mengikuti kabel listrik hingga kami menemukan penelitian petir milik ITB.

Cicadas, 20 Juli 2009.

Popularity: 12% [?]

Leave a Reply

Message: