Ocean Mist

15 Sep 2009

Jayagiri -Tangkuban Parahu : Rihlah pertama awak CyberMQ

Posted by taryana

hani

“kebiasaan adalah racun sedangkan rutinitas tak lain dari pembunuh berdarah dingin”

Silent morning itulah biasa orang menyebutnya, pagi yang tenang dimana sebagian orang libur dari bekerja. Saat dimana terlepas dari rutinitas yang terkadang membuat jemu. Walaupun Cuma dua hari bahkan satu hari maka akhir pekan ini banyak orang pergi berlibur.

Seperti halnya kami, pagi itu hari saptu tanggal 7 maret 2009. Sebuah pagi yang sangat cerah dimana tak tampak satu awan pun, langit begitu bersih dan begitu biru. Jalanan belum begitu macet, hiruk pikuk dan kesibukan para tukang angkot masih belum begitu terlihat.

Kalau orang bilang petualangan adalah penjumlahan antara resiko dan tujuan, maka tujuan kami adalah Gunung Tangkuban Perahu dan tentunya dengan resiko yaitu harus berjalan kaki untuk mencapai puncak. Semua resiko yang akan terjadi telah kami minimalisir, sesuai intruksi kepala suku maka tiap-tiap kami harus membawa bekal masing-masing seperti nasi timbel komplit, makanan ringan(coklat, biscuit, dll), alat shalat, raincoat, seragam hiking, dan satu hal yang paling penting yaitu berdoa dan shodaqoh sebelum berangkat.

Sesuai dengan rencana, kami melakukan meeting point di jalan gegerkalong hilir, tempat perhentian akhir angkot trayek cimahi – ledeng. Agis, Hanny dan Suci sudah mengunggu saya yang sedikit telat datangnya. Tanpa pembicaraan yang panjang langsung kami memutuskan untuk berangkat dan memilih angkot jurusan ST.Hall – Lembang, sembari menikmati perjalanan disertai pembicaraan ringan diangkot, sebelum akhirnya membawa kami tiba di Pasar Lembang.

Jayagiri Dua, inilah jalan yang kami susuri, awal perjalanan sudah disuguhi dengan tanjakan aspal yang panjang sampai menemukan makadam yang menanjak pula, disebuah warung dipinggir jalan kami membeli gorengan dan leupeut sebagai ganjal perut yang memang sedari pagi belum sempat sarapan.

Dari ujung makadam itu kami menemukan jalan setapak dan merupakan batas antara perumahan penduduk jayagiri 2 dengan kawasan hutan jayagiri. Disini kami istirahat sambil menghabiskan gorengan yang kami beli tadi, saya dan hanny berjalan lebih cepat dan lebih duluan, sementara agis dan suci berjalan paling belakang.

Diperhentian ini kami agak lama menunggu agis dan suci yang terlihat kecil dari kejauhan, seperti sepasukan semut yang sedang berjalan. Ketika tiba nampak wajah kelelahan menyelimuti Agis, mukanya pucat, sekujur tubuhnya tampak lemas dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saya pun sedikit panik melihat keadaanya, lalu saya menyapanya “de agis masih kuat kan, atau mau balik lagi?” dengan semangat yang tersembunyi dijawabnya “masih kuat kang”.

Agar lebih bersemangat maka Tas yang tadinya dibawa agis dibawa oleh saya, dengan maksud meringankan bebannya karena jalan masih menanjak sampai benteng belanda. Selain itu sinar mentari yang terik mempercepat kami dehidrasi. Akhirnya sampai sudah kami di benteng belanda dimana jalan setapak yang tak lagi menanjak, dan tanpa menyuruhnya agis pun kembali meminta tas yang dibawa oleh saya, tak lupa mengucapkan terimakasih kepadaku, “makasih yah kang”.

***

Kini kami mulai memasuki hutan, pohon-pohon tumbuh tinggi dan besar tidak seperti pohon-pohon pinus di jayagiri yang telah kami lewati. Bunga-bunga terompet berwarna putih bersih terlihat dibeberapa pinggir jalan, seperti penjaja terompet yang menjajakan barang dagangannya, diaturnya terompet-terompet itu secara alamiah. Udara begitu segarnya jauh dari polusi dan jauh dari keibisingan. Suara tonggeret menghiasi keheningan hutan berselang-seling dengan suara burung hutan yang kalau sekilas akan terdengar seperti orang melafalkan kalimat “ciiiiipeuuuww”.

Dari benteng belanda kami melalui jalan tengah hutan dengan maksud “motong kompas” ke arah parkiran bawah gunung tangkuban parahu. Sebagai tour leader saya agak sedikit kebingungan ketika mendapati sudah banyak jalur-jalur baru. Jalur-jalur itu sebagain telah rusak, berlubang dalam karena sering dilalui oleh penghobi motor cross yang memakai ban pacul (red : ban Cangkul).

“dan telah nampak kerusakan dimuka bumi karena ulah tangan manusia”

Target pertama sebentar lagi akan dijumpai, namun saya ingin mencari jalur baru dengan berbelok mengambil jalan kiri tujuannya agar cepat sampai parkiran, dan rupanya jalan yang ditempuh makin asing, akhirnya dengan keputusan bersama  kami balik arah dan melanjutkan kejalan semula. Disini bau blerang sudah tercium pekat maaf seperti bau kentut yang menusuk hidung.

Inilah petualangan kawan, sekali kau ceroboh dan sombong maka kau akan tersesat, bahkan bisa celaka. Tibalah kami di parkiran bawah tanpa istirahat  yang lama perjalanan pun dilanjutkan ke puncak kawah yang berjarak beberapa kilometer saja. Menanjak dan berkelok-kelok. Sedikit menghibur, saya pun sedikit membujuk “tenang tinggal dikit kok, dua belokan lagi!”

***

Tujuan yang utama akhirnya terlaksana, kini kami sampai dipuncak, lalu photo-photo narciscus, sambil mengagumi kemahaagungan-Nya tanpa peduli para pengunjung lain memperhatikan kami, dan seperti begitulah efek petualangan kawan, kita jadi begitu gembira begitu semangat dan semakin menambah keyakinan baru, bawha kita itu begitu kecil dihadapan-Nya.

Menyusuri ke ujung jalan sampai kami menemukan tempat yang enak untuk makan, makanan yang dibekel dari rumah, tentunya lebih hemat, lebih sehat, dan yang paling utama adalah bergizi. Kami makan begitu lahapnya, tepat ketika adzan dzuhur berkumandang dari “TOA” musholla gunung tangkuban perahu. Ada “basreng” HOT, ada “INTEL” goreng, ada “KFC”, dan sayuran lainnya. Hmmm enak.

Setelah selesai makan sambil meluruskan kaki kami yang mulai terasa pegal-pegal, kami mulai memakai kembali jaket karena udara terasa dingin. Setelah istirahat dirasa cukup maka kembali perjalanan kami lanjutkan, tanpa terduga cuaca berubah cepat, awan hitam mulai menaungi puncak gunung, dapat diprediksi sebantar lagi hujan deras akan turun, benar saja hujan turun begitu lebatnya, lalu kami berteduh, dan seusai hujan reda kami shalat di mushola lalu Perjalanan dilanjutkan.

Menuruni jalanan aspal, berlubang dan becek, sesekali diselingi kerikil-kerikil  tajam, sementara jalanan terus menurun menuju jalan setapak lagi yang akan tembus ke jalur jayagiri utama. Disini Agis dan Suci sempat “tipeleset” tapi turunan akar jayagiri tidak membuat kami ada yang terluka dan terasa seru disisa-sisa tenaga yang ada.

Sebuah tanjakan legendaries, tanjakan jayagiri, tanjakan yang dipopulerkan lewat lagu “melati dari jayagiri”. dan kini malah kami menuruninya. Sampai menemukan batas antara pintu masuk dan perumahan penduduk.

Jalan yang lurus dari jayagiri akan berada tepat disamping ketika kami berangkat, sebuah angkot jurusan Ciroyom – Lembang sudah menanti untuk kembali ke perjalanan pulang. Pulang, pulang dan istirahat. Semoga perjalanan kali ini penuh makna. (Terima kasih kepada Hanny, Agis dan Suci – Admin CyberMQ)

“Jika kau ingin menjadi orang yang berubah maka ingat 3 hal : 1. Baca Alquran 2. Belajar 3. Berkelana/Bertualang”

Popularity: 12% [?]

Leave a Reply

Message: