Ocean Mist

15 Sep 2009

Kuliah di Cartil, Wisuda di Warban *

Posted by taryana

P1020119

Perjalanan hari Minggu (28/6) ke Caringin Tilu itu sulitnya bukan main. Sesulit saya menyelesaikan report yang biasanya sudah muncul di hari Senin atau Selasa.

Kenyataannya, saya baru bisa menampilkannya di hari Kamis, setelah tertunda beberapa hari, karena kesibukan di tempat kerja pula. Namun, berperjalanan bersama guru Taryan dan para muridnya, buat saya selalu bermakna dan juga menyenangkan.

Hari itu, kami pergi berenam plus satu. Enam adalah para peserta yang dijanjikan datang, sedang satu orang tambahan bergabung di perjalanan. Selain saya dan Taryan, mereka adalah para murid kambuhan macam Pitra onta, Bintang ‘Sniper’ Ginanjar dan Robi Iskandar, juga murid baru Febby Lorentz dan Hariman Bahtiar yang bergabung belakangan. Oki Jeli batal bergabung karena merasa kurang fit di hari itu.

Trek yang direncanakan dalam undangan yang dikirim Taryan, sang pengantin baru, adalah Padasuka-Caringin Tilu-Warung Bandrek. Jalur ini adalah jalur yang dibalik dari kelaziman. Biasanya orang akan pergi ke warban, lalu pergi ke Caringin Tilu untuk selanjutnya berakhir di Padasuka.

Taryan memberi judul undangan gowes itu dengan ‘kuliah di cartil, wisuda di warban’. Maka, tak heran jalur ini, seperti yang dibilang kang Bayu Why, pesepeda senior Bandung Timur, bakal bikin susah. “Tanjakannya amit-amit,” katanya.

Maka, seolah menjawab rasa penasaran, kami bertujuh pun berkumpul dan beranjak pukul tujuh tigapuluh dari surapati core, tempat pertemuan yang dijanjikan. Lalu, seperti yang sudah diperkirakan, tantangan kami pada jalur ini mendapat jawabannya lewat napas yang kemudian mengalir lebih cepat dan tak teratur, juga kaki lemas karena mengayuh tanpa henti, padahal masih seperempat perjalanan.

Di sebuah pertigaan kami berhenti. Beristirahat sambil menunggu untuk re-grouping rombongan. Pantas saja, jarang ada yang mengambil jalur ini saat akan bersepeda ke warung bandrek. Setidaknya tidak sebanyak pesepeda warban saban akhir pekan. Ternyata karena tanjakan-tanjakannya seolah tak berakhir.

Akhirnya, setelah susah menempuh tanjakan-tanjakan curam tanpa henti itu, terlihatlah caringin tilu. Tempat ini, konon dulunya adalah tempat di mana ada tiga pohon caringin (beringin-pen) besar tumbuh. Kini, caringinnya tinggal satu. Menurut mitos, ketika rezim Soeharto jatuh, salah satu caringin roboh. Cerita yang lantas begitu saja mengingatkan saya akan salah satu novelnya (Alm.) Kuntowijoyo.

Caringin tilu kini mewujud jadi tempat wisata alternatif. Tempat melihat view Bandung dari arah timur. Lanskap yang luas bisa dinikmati dari saung-saung makan yang dibangun beberapa ratus meter menjelang lokasi caringin berada. Koran lokal pernah mengangkat tempat wisata ini. Mirip punclut katanya, namun masih lebih tinggi lagi. Saya tidak tahu berapa ketinggiannya, tak ada yang membawa GPS di rombongan kami, tapi lanskapnya cukup indah, apalagi jika malam menjelang.

Tapi, usai caringin tilu pun ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi. Kami pergi ke sana usai berhenti kembali di sebuah warung sederhana dengan menu spesial roti selai gula kelapa. Cukup nikmat disantap sebelum masuk jalan setapak menuju hutan pinus batu lonceng. Ah iya, masih juga menanjak.

Di hutan pinus itu kami berhenti lagi. Setelah menjumpai turunan sebentar, seolah tak bosan, kami menanjak lagi. Tapi, kata guru Taryan yang (lagi-lagi) jadi tour leader, sebentar lagi berakhir. Benar saja, setelah sebuah tanjakan yang bahkan sang guru pun TTB, semua tanjakan itu berakhir.

Bonus pun menanti. Di tempat di mana 1PDN TTB, kami malah meluncur cepat. Hehehehe, itu karena jalurnya terbalik. Turunan ini mirip-mirip Jayagiri, namun lebih curam dan tak terlalu panjang. namun cukup memuaskan kami yang dari tadi hanya menjumpai tanjakan dan tanjakan belaka.

Meskipun begitu, kesenangan itu harus dibayar oleh Hari yang jatuh dan anting sepedanya bengkok. Sebentaran diakali sana-sini, akhirnya perjalanan di lanjutkan. Jalur setapak rumput itu berakhir di jalan aspal mengular yang menurun.

Namun, keasyikan ‘lalayaran’ – merujuk pada perahu layar ketika angin kencang – tak dikayuh pun sepeda meluncur cepat karena turunan, itu harus berakhir. Seolah hanya sekejap saja terasanya. Bukan karena ada tanjakan lagi, namun tiba-tiba saja kami tiba di warung Bandrek.

Bandung, Suniaraja: 2 Juli 2009

* courtesy of Taryan Taryana

Popularity: 13% [?]

Leave a Reply

Message: