Ocean Mist

15 Sep 2009

Mencari Keluhuran di Curug Luhur

Posted by taryana

Penulis Arif “abah” Zaidan
curug
http://abahsaidan.multiply.com

Tak afdol rasanya jika si kuning tak diperkenalkan pada Guru Taryan. Maka, hari Minggu kemarin (4/5), merupakan perjalanan pertama si kuning bersama beberapa teman. Tentu saja, dipandu guru Taryan.

Trip ini sudah kami rencanakan sejak hari Kamis, dalam percakapan Y!M dengan Taryan. “Si kuning bade disiksa ka mana, bah?” Tanya dia. Saya jawab terserah saja. Lalu, Taryan mengajukan sebuah tempat: Curug Luhur.

Di MP-nya Taryan saya pernah melihat foto-fotonya, tampak menarik terlihatnya. Curug Luhur terletak di Desa Cibodas. Jika dari Lembang, ambil jalan ke arah Maribaya. Setelah Maribaya, ke atasnya lagi ke arah Bukit Tunggul. Sampai terminal, belok kiri, di sanalah lokasi Curug Luhur berada.

Langsung saja saya iyakan. tapi, seperti kata Taryan, perjalanan nanti bukanlah perjalanan singkat (short trip). Bisa memakan waktu seharian. Jika begitu, saya harus minta persetujuan Ambu dulu. Tak lama, ijin didapat, tak ada masalah. Lalu, disepakatilah waktu perjalanan. Asalnya, memang mau hari Sabtu, jadinya bergeser satu hari. Perjalanan dilakukan hari Minggunya. Meeting point di gerbang UPI, pukul tujuh pagi.

Soal peserta juga mengalami perubahan. Tadinya hanya dua orang, saya dan Taryan, akhirnya bertambah jadi delapan orang. Saya pikir, lebih seru jika lebih banyak peserta, biarpun waktu bersepeda jadi melar beberapa lama.

Akhirnya, di Gerbang UPI itu, berkumpullah para murid Guru Taryan. Murid lama ada tiga, saya, Jeri dan Oki. Sisanya, murid baru semua. Ada Pitra (Onta) Ramadhani dan Roby Iskandar, para pustakawan bersepeda, teman sekampus dulu. Ada pula Sniper yang hendak menjajal Exrada tunggangan barunya. Juga peserta dadakan bernama Hendra, teman Roby yang tadinya cuma mau ke warung balok saja.

Pukul setengah delapan, rombongan berangkat menuju Lembang. Beberapa yang terbiasa nanjak, langsung melesat. Saya, jeri, Oki dan Taryan memilih belakangan saja. Santai saja, seperti yang saya pesankan pada Taryan malam harinya, “kang, enjing teh santey we, nya heheheh, td enjing2 nembe ti gunung masigit gua pawon:)”. dibalas langsung oleh Guru Taryan, “Mangga, bah!”

Sampai di Lembang, rombongan berhenti sebentar di daerah warung balok. Menghangatkan perut dengan teh manis panas dan lemon peras. Sedikit ngopi gehu dan bala-bala juga.

Pukul sembilan lewat perjalanan dilanjutkan. Kali ini bonus turunan panjang dan berkelok sebelum kawasan wisata Maribaya lumayan memanjakan. Meskipun kemudian harus ditebus dengan tanjakan yang tak kalah panjang dan berkelok setelahnya.

Seluruh rombongan sampai di Desa Cibodas pukul sepuluh lewat. Berhenti sejenak untuk istirahat dan membeli nasi bungkus buat dimakan di Curug Luhur sana. Kabarnya, Curug ini dulunya adalah kawasan wisata. Tapi lalu ditutup karena memakan korban sepasang suami isteri yang meninggal saat bertapa. Katanya sih minta nomor, pastinya saya kurang tahu.

Tapi, ditutupnya curug sebagai kawasan wisata, nyata benar dampaknya. Setelah makadam dan jalur setapak tanah yang menanjak, kami disuguhi jalan setapak yang terlihat lama tak dikunjungi. Rumput, ranting dan alang-alang nyaris saja membuat jalan tak terlihat. Tinggi-tinggi pula, hingga mengharuskan beberapa kali berhenti karena menyangkut di pulley atau sprocket di bagian belakang.

Beberapa kali pula jalur yang tak terlihat itu menjebak sepeda, membuat terguling atau paling tidak terperosok. Tak jarang tumbuhan durinya, semacam putri malu, menggores kaki dan tangan. Bahkan, jika saja tak ada helem, bukan tak mungkin kepala menjadi korban.

Jalur yang tertutupi membuat pemandu kami beberapa kali turun dari sepeda untuk survey. Memastikan mana jalan yang benar. Suatu waktu, bahkan kami semua menempuh jalur yang salah, membuat kami harus mengulang dari persimpangan sebelumnya. Bahkan, dalam keputusaasaan, pernah kami berpikir bahwa jalur ini bukan lagi jalur sepeda.

Hingga akhirnya bertemu jalur yang benar, namun mengharuskan kami memarkir sepeda beberapa puluh meter dari lokasi curug. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, memang. Tapi, akhirnya sampai juga di tujuan. Lalu, seperti kata Onta, begitu melihat air jatuh di ketinggian, semuanya terbayar! Sesaat setelah melihat Curug Luhur itu, rasanya ada keterpukauan yang sama terhadap keindahan alam.

Sampai di Curug, Taryan langsung berwudhu lalu menghamparkan raincoatnya untuk alas Shalat. Di sebuah batu dengan permukaan yang agak rata dan lebar. Setelah selesai, kami antri bergantian. Lelah berperjalanan terbasuh dengan dinginnya air curug saat berwudhu.

Selesai shalat, tak lama, bekal pun dibuka. Nikmat rasanya santap siang di tengah pegunungan. Apalagi jika mengingat bagaimana upaya kami bisa mencapai tempat ini. Sambil makan, saya dan Taryan berbincang tentang betapa keindahan alam selalu saja menimbulkan keterpukauan luar biasa.

Waktu kecil saya mengaji dulu, hal ini disebut ustadz sebagai Tadabbur Alam. Artinya bukan hanya sekedar wisata, katanya. Ada hal-hal yang bisa sengaja dimaknai. Tentang bagaimana Tuhan �menampakkan diri� melalui ciptaan-Nya, misalnya. Dulu, guru ngaji saya bilang kalau mau mengenal Allah, kenalilah lewat ciptaan-Nya.

Barangkali inilah yang dimaksudkan; ketika terpukau akan keindahan alam, semestinya di sana lahir kesadaran bahwa kita hanyalah makhluk kecil dan nihil. “Tiada daya dan upaya, semua hanya milik-Nya”. Maka sungguh, di tempat ini saya teringatkan kembali, tidaklah Tuhan menciptakan segala sesuatu sia-sia. Maha suci Engkau, ya, Allah, semoga kami dijauhkan dari api neraka.

Selesai makan, kami agak berlama-lama di sana. Terlebih, saat itu hanya kami berdelapan yang ada di lokasi Curug (di luar yang tidak terlihat,tentu). Menjadi turis sehari, menikmati dinginnya air curug juga tak lupa bergaya di depan kamera.

Diantara kami berdelapan, hanya Jeri yang membawa kamera. Tapi itupun sudah cukup. Dokumentasi, kata Taryan adalah hal yang penting di setiap perjalanan. Boleh jadi, karena gambar hanyalah �second hand reality�, dia tidak membawa serta kepayahan kami menempuh perjalanan ini. Tak pula memperlihatkan muka frustrasi karena di depan tampak (lagi-lagi) tanjakan.

Satu-satunya hal yang terekam hanyalah kegembiraan, biarpun lepas pulang, kami basah kuyup kehujanan.

Bandung, 4 mei 2009

Popularity: 12% [?]

Leave a Reply

Message: