15 Sep 2009
Sudah Saatnya Taryan Menjadi Guru

Perjalanan Mencari Menara Sukawana
Sudah nyaris sebulan saya tak bersepeda di akhir pekan. Hingga akhirnya, Sabtu (14/3), bersama Taryan Taryana saya kembali ke Sukawana lagi. Sukawana memang selalu menyajikan pesona. Setidaknya, saat diabadikan kamera.
Untuk beberapa hal terkadang realitas memang lebih baik disajikan dalam bentuk gambar-gambar. Boleh jadi, karena gambar tak pernah bisa menangkap bagaimana dengusan napas yang dipaksa keluar maksimal saat menghadapi tanjakan panjang. Atau, bagaimana dengkul yang tak bisa lagi diajak kompromi, saat tempat tujuan tak juga terlihat.
Tapi itu terjadi nanti, ketika siang sudah sangat menjelang dan telapak tangan tak lagi kuat menahan sakit kulit yang terkelupas. Seolah mewakili perasaan ‘kecewa’ akan misi yang gagal di hari itu. Esok harinya, di status y!m, Taryan menulis, “target gagal, misi uncomplete”
* * *
Perjalanan ini sesungguhnya mendadak adanya. Saya mengirim pesan singkat pada Taryan pada Jumat malam, menanyakan apakah ada rencana bersepeda esok harinya. Lalu, esoknya, sekira pukul 5.30, Taryan menelpon. Sempat berdiskusi, akhirnya saya membuat Taryan memajukan rencana ke Sukawana. Sedianya dilakukan sore hari, berubah menjadi pagi-pagi. Tadinya sendirian, kini ada teman.
Tapi, yang berubah adalah waktunya. Tujuan perjalanan masih seperti yang Taryan tetapkan: Mencari Jalur ke Tower Sukawana.
Maka, berangkatlah saya menemui Taryan di Komplek Taman Cihanjuang, depan Alfamart. Setelah melewati Jalan pesantren dan Cihanjuang, juga melewati belokan ke Sariwangi dan kawasan wisata ‘all about strawberry’.
Nyaris tepat Pukul tujuh kami berjumpa. Selanjutnya, perjalanan berlangsung seperti biasanya. Jalur ini belum pernah saya coba sebelumnya dengan sepeda. Kalau pakai motor atau mobil, sih, sudah beberapa kali. Agak lumayan curam nanjaknya di beberapa titik, meskipun di antara tanjakan-tanjakan curam itu ada beberapa yang mendingan. taryan menyebut tanjakan sedang itu ‘untuk recovery’.
Kami sepakat, diantara jalur Ciwaruga, Cihideung dan Cihanjuang, yang sudah pernah kami lewati, jalur Cihanjuan ini dirasakan yang paling berat. Jalur ini berakhir di Universitas Advent Indonesia Parongpong, tempat kami beristirahat untuk kedua kalinya.
Selanjutnya, seperti yang sudah-sudah, kami ke Sukawana lewat Villa Istana Bunga, hingga gerbang kecil yang merupakan jalan setapak menuju kawasan PTPN VIII Sukawana.
Di sana, kami ‘dijamu’ oleh teh dingin, yang terhampar luas di depan mata. Hijau berderet bagaikan karpet. Beberapa kali pemandangan serupa ini kami lihat, tapi tak henti kami menikmatinya. Menyusuri jalan tanah berbatu, di mana teh terhampar di kanan-kirinya. Terkadang, kabut turun menjemput. Datang bersama udara dingin yang membawa sedikit oksigen.
* * *
Pukul 10 lewat kami sampai di tempat paling tinggi di perkebunan itu. Hamparan teh berakhir di sini. Seorang pemburu burung memberitahu kami arah jalan menuju Tower. Sepertinya memang tidak jauh lagi.
Kami masuk ke jalanan berkerikil yang agak lebar. Ukurannya selebar satu buah mobil atau truk. Diselingi batu-batu berukuran sedang dan besar dan kelokan-kelokan yang terus menanjak.
Sepanjang perjalanan saya terus mengekor Taryan. Terkadang, dia tak lagi terlihat, apalagi ketika dia terus mengayuh, sementara saya banyak terhenti.
Hingga suatu saat setelah masuk jalan ini begitu jauh, hutan semakin lebat saja. Sudah tampak bagaikan rimba. Di depan, Taryan menunggu saya. Lalu, dia menemani saya yang semakin payah. Dari sini Kami menuntun sepeda bersama. Di satu titik, kami berhenti. Rasanya tak habis-habis jalan ini. Melunturkan semangat kami yang ingin sampai di menara. Tapi, menara tak jua terlihat di sana, dan hari makin siang saja.
* * *
Ketika tenaga nyaris habis, saya pikir bisa menikmati turunan panjang yang bakal dijelang. Nyatanya saya salah. Turunan dan jalan berbatu adalah kombinasi terbaik untuk menyiksa lengan. Alhasil, telapak tangan kanan saya habis tergesek karet handle bar. Biarpun berbungkus sarung tangan, tetap tak kuasa menahan lecet yang berbuah kulit terkelupas.
Maka, turunan tak lagi bisa saya nikmati. Ketika perih melanda, sementara saya tak punya pilihan lain yang bisa dilakukan. Biasanya, turunan setapak di kebun teh ini menjadi hal yang menyenangkan, tapi hari itu, saya mesti sedikit melambatkan laju sepeda dan berharap cepat sampai di masjid PTPN.
Di masjid, luka di telapak tangan mulai dibersihkan. Dinginnya air membuat tangan sedikit kebas. Baal, orang Sunda bilang. Anggap saja anestesi lokal.
Sehabis shalat, perlengkapan P3K pun dikeluarkan. Untunglah sedikit betadine dan balutan perban, juga jalan yang tak lagi berbatu membuat segalanya jadi lebih mudah.
Kami kembali ke jalur yang sama saat pergi. Balutan perban sedikit mengurangi penderitaan. Pukul satu lewat kami sudah meninggalkan Istana Bunga dan masuk ke jalan Cihanjuang. Kali ini menurun, dan saya jadi lebih hati-hati. Di Taman Cihanjuang, kami berpisah, sementara awan hitam mulai menggayut, janjikan hujan yang kelihatannya sudah mulai turun sedikit demi sedikit.
* * *
Perjalanan bersama Taryan memang selalu menyenangkan. Banyak percakapan yang dipertukarkan. Banyak pula hal-hal lain selain sepeda yang dibicarakan.
Seorang teman menggelarinya sebagai murid utama Ustad Amri. Pesepeda handal yang katanya punya hobby manajemen. Seorang motivator yang telah wara-wiri di berbagai media. Di kalangan pesepeda, Pak Ustad ini terkenal akan ingatannya yang luar biasa akan jalur-jalur di hutan.
Di satu kesempatan, Taryan mengaku bahwa orang yang menularkan ‘virus’ bersepeda padanya adalah Ustad Amri. Tak salah-salah amat jika Taryan disebut sebagai murid utama Ustad Amri. Dalam beberapa foto bersepedanya Ustad Amri, Taryan kerap terlihat di sana.
Perjalanan kali ini sepertinya membuktikan hal itu. Bahwa Taryan adalah sang murid utama. Keinginan mencari jalur-jalur baru dan mengingatnya dengan baik, dan terutama ketangguhannya dalam melakukan hal itu. Butuh modal lebih dari sekedar dengkul ‘shimano’ atau napas ‘Microban’ untuk melakukannya. Butuh kesabaran ekstra untuk tidak cepat frustasi saat tempat yang dituju tak juga tercapai.
Tapi buat saya,ada hal lain yang lebih berarti. Sejak perjumpaan pertama di acara bersepeda bersama Mojang Jajaka beberapa bulan lalu, Taryanlah yang banyak membawa saya bersepeda agak jauh. Terkadang berdua saja.
Perjalanan terakhir sebelum ini sudah membuktikan, bahwa sang murid utama sudah saatnya menjadi guru. Perjalanan kali ini seolah menahbiskan kenyataan itu.
Tabik!
Bandung, Suniaraja, 170309: 15.00
Popularity: 12% [?]