15 Sep 2009
Tangkuban Perahu dan ROGER BAGEN

Bandung, 28 Desember 2008
“berbagi waktu dengan alam kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya hakikat manusia
akan aku telusuri jalan yg setapak ini semoga kutemukan jawaban”
Diatas adalah petikan lirik lagu GIE yang sekaligus menjadi soundtrack film gie, lirik lagu diatas yang menginspirasi awal perjalanan kami.
Cuaca akhir desember begitu bersahabat, angin pagi berhembus begitu segarnya. Akhir desember tahun ini terdapat hari-hari besar yang banyak dinanti orang seperti hari ibu, kenaikan isa almasih, tahun baru islam 1430 H, dan ditutup dengan perayaan tahun baru 2009. Maka akhir bulan merupakan liburan yang panjang bagi mereka yang berkerja sebagai pegawai negeri atau pun sebagai karyawan swasta.
Ada yang menjadikan hari libur sebagai hari kerja dan ada yang menjadikan hari kerja sebagai hari libur, ada pula yang memanfaatkan liburan sebagai proses re-charge dan menggunakan waktu liburannya semaksimal mungkin seperti pergi ke pantai, pergi ke gunung, berkunjung ke sanak saudaranya dan lain sebagainya. Maka saya lebih memanfaatkan liburan sebagai sarana olahraga bersepeda yaitu olahraganya dapat, rekreasinya dapat, silaturaminya dapat, kulinernya dapat dan yang tak kalah penting adalah menguji daya tahan fisik sejauh mana menghadapi medan yang akan dihadapi.
Tausiyah pagi di Mesjid Daarut Tauhiid yang diisi oleh Ust. Dudung Abdul Ghani, belum selesai. Tetapi kami harus berkumpul didekat masjid DT untuk melakukan meeting point sambil sarapan bubur ayam “RESTORJA” yang murah meriah. Saya, Ust. Amri, Pa Nahar, Pa Joko mulai mengayuh menuju ke arah lembang. Setelah sampai di lembang dan berhenti sejenak perjalanan dilanjut lagi menuju ketinggian 1400 m, yaitu Trek Gunung Putri.
Setelah terjajah dengan pekatnya asap knalpot, angkot yang berhenti seenaknya, bus-bus besar yang menghabiskan jalan sepanjang Jalan sethiabudi sampai pasar lembang, kini kami melewati jalur yang menanjak dan sepi dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Inilah kemerdekaan yang kami rasakan menikmati segarnya udara pegunungan tanpa tercemari oleh asap-asap knalpot.
Di warung ujung kampung gunung putri sebelum melewati makadam, kami istirahat sekitar 15 menit untuk mengisi tangki-tangki kami sebagai persediaan untuk melanjutkan perjalanan. Keringat membasahi baju-baju kami, keringat bercucuran, dan udara dingin segera membalut tubuh kami. Warung diujung kampung ini memang tempat yang paling enak untuk beristirahat melihat view gunung tangkuban perahu yang berhimpitan dengan gunung burangrang disebelah baratnya.



Perjalanan pun dilanjutakan menelusuri single track, makadam, hutan pinus dan jalan raya menuju tangkuban perahu. Bau blerang sudah tercium sejak kami tiba di jalan raya. Sengaja kami harus datang lebih awal ke puncak gunung karena kami akan bergabung dengan pesepeda dari Bekasi yang menamakan grup nya dengan nama ROGER BAGEN. Karena 4 pesepeda kali ini sudah terlatih maka pukul 8.45 sudah sampai puncak kawah.
***

Rombongan yang dinanti akhirnya tiba sekitar pukul 10 ketika jalanan ke sekitar parkiran atas macet total karena banyaknya pengunjung yang membawa kendaraannya masing-masing diantara itu ada juga yang membawa kendaraan dinas plat merah. Tiga pick up tiba membawa puluhan sepeda dan puluhan penunggangnya juga.
Setelah meeting poin yang dipimpin oleh pa Riki Soelaeman selaku pimpinan rombongan dan ditutup oleh doa oleh Ust Amri kami pun berangkat. Di parkiran bawah kami berhitung sekitar 32 orang tergabung dalam trip kali ini. Melewati single track yang akan menuju jaya giri, cikole, benteng belanda, lembang, masjid lembang.

Melewati jalan setapak dengan kondisi jalan basah memerlukan konsentrasi dan kehati-hatian, salah-salah bisa terpeleset dan terjatuh. Saya mendapat amanah sebagai tim penyapu dan berada dibagian belakang rombongan. Menjadi rombongan paling belakang agar rombongan tidak terpisah ataupun kesasar.
***
Matahari bersinar begitu terik, sebentar lagi akan berada tepat diatas kepala yang pertanda tengah hari akan segera tiba. Membakar kulit tangan yang tak berpelindung, mempercepat dehidrasi seiring dengan keluarnya banyak keringat dan panasnya udara. Langit berwarna biru cerah dengan gerombolan awan-awan yang berwarna putih bersih.
Kepingan-kepingan harapan mulai membayangi langkah-langkah yang tak pernah lelah. Sebentar lagi kita akan sampai benteng belanda. Salah satu dari banyak peninggalan penjajah yang selama 350 tahun menjajah bumi ibu pertiwi. Walaupun umurnya sudah ratusan tahun tapi bangunan itu tetap kokoh, secara jujur orang tua dahulu berfikirnya sudah jauh ke depan, tidak setengah-setengah dalam berbuat sesuatu akan tetapi haruslah bermanfaat bagi anak-cucunya.

Akhirnya kita akan melewati turunan yang licin, satu persatu dari para biker melewati turunan, ada yang sangat hati-hati, ada pula yang ngebut tentunya bukan hanya sebuah kenekadan tapi melalui sebuah keberanian dan perhitungan yang matang. Roger team melewatinya dengan gagah berani, konsentrasi, teknik, dan tentunya kondisi sepeda yang mendukung untuk melewati medan jalanan yang menurun tak beraspal.
Ujung dari turunan ini memberikan bonus tanjakan yang lumayan panjang rata-rata biker menuntun sepedanya, hingga sampai diujung tanjakan. Jalan ini yang akan menuju kea rah Pasar Lembang. Tepatnya sebelah barat pasar Lembang. Lalu kami berhenti di Masjid Lembang karena sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang. Sambil beristirahat, ada yang photo-photo naciscus, ada yang ngobrol berkelompok ada yang jajan minuman dingin untuk menghilangkan dahaga.
***
Setelah selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim dan istirahat yang cukup, perjalanan pun dilanjutkan menuju salah satu rumah makan sunda yang menyajikan menu masakan khas sunda. Nasi merah, nasi putih, sea food, Daging sapi, Aneka Ayam, tempe tahu, PETE, dan sayuran hijau segar telah tersedia di meja. Dengan lahapnya kami pun mulai menyantap hidangan yang tersedia. Nikmat sekali makan siang kali ini secara tadi pagi hanya sarapan bubur ayam. Perut yang keroncongan pun kini padat berisi, kenyang dan tenaga pun pulih kembali diiringi rasa kantuk yang mulai menyerang.


Dari arah rumah makan, lurus dan belok kiri, maka habis belokan itu akan menemui makadam yang akan menuju Boshca. Kembali, republic TTB rame-rame mendorong sepedanya menuju puncak boshca. Dari puncak Bocsha jalanan menurun dengan single track dan tanah yang tidak licin sehingga sangat menyenangkan tapi perlu kehati-hatian karena banyak jebakan.




Akhir dari turunan ini menembus eldorado dan menyebrang jalan raya kembali menemukan jalan menurun dan single track yang akan menuju ke pondok hijau. Di kawasan inilah adrenalin kita diuji dengan turunan rumput curam, hanya biker yang bernyali besar yang dapat menuruninya. Sementara saya dan beberapa biker lainnya lebih memilih jalur kiri yang lebih aman. Dan turunan ini pun sukses dilalui teman-teman tanpa ada yang terjatuh dengan luka serius.




Puas prosotan, perjalanan dilanjutkan dengan kembali menapaki jalanan aspal pondok hijau menuju area hijau dengan bonus tebing curam, karena medannya terlalu curam banyak yang mengundurkan diri mencobanya. Banyak yang terjatuh disini tapi senang karena jatuhnya ke rumput, Pa Riki juga CIUT nyalinya setelah melihat ada yang jatuh dan lebih memilih turunan aman.

Setelah prosotan terakhir rombongan pun menuju KPAD di jln Topologi yaitu rumahnya Kang Aris (ROGER 03) sebagai finish akhir dan selanjutnya kami berpisah disini, Semoga perjalan kali ini bisa menambah arti kehidupan, untuk apa kita hidup dan akan kembali kepada siapa kita ini.
Popularity: 12% [?]